Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa saja sesukaku.
Namun, ketika krismon tiba, musibah itupun tidak bisa dipungkiri oleh keluarga kami. Kami jatuh bangkrut. Itupun kami memiliki hutang pajak yang tertunggak. Sudah seminggu lamanya, tukang pajak menyatroni rumah kami dan menghutang segala berkas berkas perusahaan ayahku. Ketika aku dipanggil masuk, petugas pajak dan ayahku sedang duduk di ruang kerja. Petugas pajak itu sudah cukup tua. Kira-kira seumur ayahku, tapi matanya dengan nanar memandangi tubuhku yang termasuk bongsor. Dia tersenyum memandangku, wajahku memang termasuk lumayan, maklum dengan tampang orientalku yang klasik, banyak yang mengincarku. Termasuk petugas pajak bernama Pak Amir yang duduk di hadapanku. Ayahku secara panjang lebar menceritakan kesulitannya yang dihadapinya dan bagaimana Pak Amir menawarkan bantuannya untuk mengurangi hutang pajak yang tertunggak kepadanya. Tapi untuk itu ada harga yang sangat mahal. Masalahnya, ayahku sedang tidak memiliki uang sama sekali. Sedangkan bila hutang pajak itu tidak diselesaikan, ayahku akan dimasukkan ke penjara. Pak Amir berkata, bisa dibayar asal aku mau memberikan keperawananku kepadanya. Ayahku hanya tertunduk saja. Aku sangat kaget karena mendengar hal yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.
Setelah dijelaskan secara panjang lebar, akupun menuruti perintah ayah. Secara gontai, dia meninggalkan kami berdua keluar dari kamar kerja. Saat itu, aku mengenakan t-shirt dan rok mini. Pak Amir secara perlahan mulai mengelus tanganku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Dia mulai berani dan mengelus rambutku, tiba-tiba aku mencium bau rokok, ternyata Pak Amir mulai menciumi bibirku. Aku tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang besar telah menimpa tubuhku yang kecil. Ciumanpun turun ke dadaku yang membusung. Tangannya secara perlahan meraba betis dan naik ke pahaku.
Secara perlahan, rokku di kibaskan dan aku merasa kemaluanku dipermainkan oleh jarinya. Aku hanya bisa berteriak kecil ketika jarinya menusuk alat kemaluanku dan tak lama kemudian alat kemaluankupun menjadi basah. Tiba-tiba Pak Amir berdiri dan membuka celananya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia memaksa memasukkan alat kemaluannya ke mulutku. Aku mencoba berontak, tapi apa daya? Bau sekali penisnya tapi aku teringat akan nasib ayahku yang saat ini sedang berada di tanganku, mengingat hal itu, aku mencoba merubah sikapku dari pasif menjadi aktif. Aku tidak ragu lagi melahap penis Pak Amir yang besar itu dengan mulutku. Kukulum dan kuhisap seperti orang ahli. Dia memegang kepalaku seakan tidak mau penisnya keluar dari mulutku.
Setelah puas, dia memaksaku membuka celana dalamku. Akupun hanya bisa telentang ketika lidahnya memainkan clitorisku. Aku hanya bisa merem-melek keasyikan, baru kali ini rasanya aku merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat. Tak lama kemudian, tak hanya lidah saja yang berbicara.
Rupanya Pak Amir tidak sabar lagi untuk mencoba vaginaku yang masih perawan. Aku menjerit kecil ketika aku merasakan penisnya yang besar memasuki vaginaku untuk pertama kalinya. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan ketika dia dengan ganasnya melahap keperawananku. Setelah bosan dengan posisi itu, dia memaksaku dengan posisi menungging dan dia menghantamku dari belakang. Aku hanya bisa memejamkan mata antara menikmati dan kesakitan. Diapun berganti posisi dan duduk di bangku dan aku disuruhnya untuk duduk di atasnya, dengan posisi duduk, aku memiliki kendali atas dirinya dan entah kenapa aku telah lepas kendali, sehingga aku menggoyangkan penisnya dengan cepat sekali, dia tidak tahan lagi dan akupun dipaksa untuk menjilati air maninya, rasanya aneh. Tapi karena aku disuruh telan, akupun tanpa pikir panjang menelannya.
Selesai tugasku untuk membantu ayahku dan selesai pula pengalaman seks pertamaku dengan seorang petugas pajak yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahku. Apa mau dikata. Akupun tidak tahu apakah aku harus menyesal atau menikmati kejadian tersebut. Rasanya aku jadi ketagihan juga sih.
Tuesday, May 11, 2010
Cerita Dewasa 17 Tahun Bahagian Kedua
mbak nurul yang semok, Sejak kepindahan kostku ke daerah Depok,aku bertetangga dengan
Keluarga Pak Rusdi.Pegawai Pemda DKI ini tinggal bersama istrinya dan
menantunya yang biasa dipanggil Mbak Nurul oleh para tetangga
lainnya. Mbak Nurul yang telah mempunyai anak dua itu tinggal bersama
mertuanya, karena suaminya mencari nafkah ke Kuwait hampir
setahun yang lalu. Usia Mbak Nurul aku taksir sekitar 30 tahunan,atau
tepatnya 31 tahun ketika aku tak sengaja mendengar salah seorang ibu
tetangga menanyakan usia menantu Pak Rusdi ini.
Satu hal yang menarik dari menantu Pak Rusdi ini,adalah pakaian yang
dikenakannya sehari hari.Ibu muda ini selalu berpakaian menutup rapat
sekujur tubuhnya kecuali wajahnya dan telapak tangannya. Ibu Muda
beranak dua ini selalu kulihat memakai jilbab yang lebar dan pakaian
yang panjang longgar hingga mata kaki,bahkan sepasang kakinya selalu
kulihat memakai kaos kaki kadangkala berwarna krem atau
putih.Sebenarnya aku tidak terlalu memperdulikan menantu Pak Rusdi
yang kelihatan alim itu,namun kalau aku berangkat kuliah,aku sering
ketemu Mbak Nurul pulang dari belanja di pasar.Setiap kali
bertemu,Mbak Nurul selalu menyapaku ramah dan melempar senyum
manisnya yang membuat aku menyadari Mbak Nurul mempunyai paras wajah
yang cantik.Wajah wanita tetanggaku yang selalu terbalut jilbab lebar
ini mirip sekali dengan aktris Marissa Haque.
Satu setengah bulan sudah aku kost di Depok,dan kadang kala aku
berpikiran tentang Mbak Nurul yang cantik itu.Apakah Mbak Nurul tidak
merasa kesepian ditinggal begitu lama oleh suaminya,namun melihat
Mbak Nurul yang alim itu aku nggak berani berpikir kotor kepada
wanita ini.”Keindahan yang tersembunyi”gumamku kalau mengingat Mbak
Nurul yang berwajah mirip aktris Marissa Haque,namun tubuhnya selalu
tersembunyi dalam pakaian dan jilbab panjangnya yang rapat.Tubuh Mbak
Nurul pun kulihat cukup
tingi untuk ukuran wanita,aku pernah melihat ibu muda ini sama tinggi
dengan Pak Rusdi ketika dia berjalan bersama Pak Rusdi,dan aku tahu
tinggi mertua Mbak Nurul ini 165 cm,berarti tinggi Mbak Nurul juga
165 cm.
.
Senja itu aku baru pulang dari praktikum kimia.Hari sudah mulai
gelap,termasuk daerah di sekitar kostku.Waktu aku lewat di samping
rumah Pak Rusdi,aku melewati salah satu jendela di rumah Pak Rusdi
yang memang sedang diperbaiki.Mungkin karena sedang
diperbaiki,jendela itu tidak tertutup sempurna.Aku melihat ada
beberapa lubang kecil pada jendela yang tengah diperbaiki itu dari
sinar lampu dalam rumah yang keluar lewat lubang-lubang kecil
itu.Melihat lubang-lubang kecil itu timbul rasa isengku untuk
mengintip ke
dalam.Dengan hati-hati aku segera menempelkan mataku pada lubang-
lubang kecil tersebut,beberapa saat kemudian aku menemukan lubang
yang cukup besar untuk mengintip.Ternyata jendela tersebut adalah
jendela sebuah kamar,entah kamar siapa.Beberapa saat aku mengintip
melalui lubang tersebut,namun keadaan kamar yang terang benderang itu
terlihat sepi.Ketika aku hendak mengakhiri aktivitas mengintipku,tiba-
tiba aku melihat pintu kamar itu terbuka dan aku lihat seorang masuk
ke dalam kamar.Aku belum begitu jelas siapa orang itu,namun setelah
orang itu sampai ke tempat yang lebih terang aku baru melihat
ternyata orang tersebut adalah seorang wanita muda.Agaknya wanita itu
baru selesai mandi ketika aku melihat rambut panjang ikalnya yang
basah serta handuk yang melilit tubuhnya.Sesaat aku heran, karena aku
tak mengenal dan tak pernah melihat perempuan berkulit putih ini
sebelumnya Namun sekejap kemudian darahku terkesiap ketika aku
mengamati wajah perempuan ini lebih seksama.
“Mbak Nurul!!”desisku tertahan.Wajah cantik Mbak Nurul yang mirip
Marissa Haque teramat mudah dikenali.Tubuhku sesaat menggigil
menyadari perempuan yang tengah kuintip ini adalah Mbak Nurul yang
alim berjilbab itu.Aku tak pernah melihat tubuhnya kecuali hanya
wajahnya yang terbalut jilbab lebar serta telapak tangannya yang
putih terlihat halus.Namun saat ini perempuan berjilbab itu aku lihat
hanya berlilitkan handuk pada tubuhnya.Mendadak timbul keinginanku
untuk mengintip Mbak Nurul yang agaknya hendak berganti pakaian
setelah dia mandi.Dengan berdebar-debar aku berusaha lebih jelas
melihat melalui lubang kecil tersebut,namun aku harus kecewa karena
dari lubang pengintip itu,aku hanya mampu melihat tubuh Mbak Nurul
sampai dari kepala sampai ke
pinggangnya karena pandangan dari sebagian lubang pengintip itu
memang tertutup sebuah lemari buku. Walaupun hanya sebagian tubuh
Mbak Nurul yang terlihat,tubuhku sudah menggigil menahan
birahi.Mataku membuka lebar-lebar ketika aku lihat Mbak Nurul melepas
handuk putih yang melilit tubuhnya.Aku yakin tubuh menantu Pak Rusdi
saat ini telanjang bulat.Sayangnya aku hanya mampu melihat dari
kepalanya hingga ke pinggangnya.
Aku menelan ludah berkali-kali melihat keindahan tubuh Mbak Nurul
yang terlihat lewat lubang pengintip.Mataku lekat menatap leher
jenjang ibu muda ini yang terlihat mulus menggiurkan,lantas mataku
menyusuri ke bawah hingga kulihat sepasang buah dada Mbak Nurul yang
telanjang. Nafasku mulai terengah dan kemaluanku pun mulai tegang
ketika mataku lekat di dada Mbak Nurul .Sepasang payudara ibu muda
yang cukup montok ini masih terlihat kencang,walaupun tidak sekencang
payudara seorang perawan.Kulitnya yang putih mulus dengan puting susu
yang kecoklatan membuat buah dada Mbak Nurul terlihat menggiurkan dan
membangkitkan birahiku Namun aku hanya mampu menikmati keindahan
payudara Mbak Nurul saja,karena ketika mataku menyusuri ke bawah
payudaranya,lemari buku sialan itu menghalangi pandanganku,padahal
aku tahu Mbak Nurul tengah telanjang bulat saat ini.Nafasku terengah-
engah melihat Mbak Nurul yang kemudian mengenakan BH untuk menutupi
sepasang buah dadanya yang sedang menjadi santapan mataku.Aku
mengakhiri keasyikanku ketika Mbak Nurul telah mengenakan
pakaian,sebuah jubah panjang berbunga-bunga.Akhirnya aku kembali ke
tempat kostku yang terletak di samping rumah Pak Rusdi dengan birahi
yang memuncak.Rasa seganku kepada Mbak Nurul yang berjilbab itu
berganti rasa birahi yang membakar.Ketika aku di kamar, aku mengocok
kemaluanku sembari membayangkan kedua buah dada Mbak Nurul kulihat
telanjang tadi.Aku membayangkan yang sedang mengocok-ngocok
kemaluanku adalah tangan Mbak Nurul dengan dada montoknya yang
telanjang…mmm..aku cuma bisa mendesah-desah dan menggigit bibirku
menahan nikmat.,sampai akhirnya aku mencapai puncak kenikmatanku
ketika tubuhku bergetar hebat disertai muncratnya air mani kental
dari ujung penisku dan eranganku menyebut nama wanita tetanggaku
itu ,membayangkan keindahan yang kuintip tadi.
“Ohhhh..mmm..ahhhh…sshhh h.. Mbaak
Nuruuullll…ahhhhh..enaaaaakk kk..ahhhhhhh!!!”
desahku di di ujung kenikmatanku sebelum aku tergeletak lemas. .
Sejak saat itu rasa seganku kepada wanita berjilbab ini lenyap justru
aku selalu membayangkan tubuh Mbak Nurul dalam onaniku.Aku
mengkhayalkan keindahan tubuh di balik pakaian jubah panjang dan
jilbab lebar yang selalu dikenakan ibu
beranak dua ini.Setiap kali aku ketemu Mbak Nurul dalam jilbab lebar
dan jubah panjangnya,mataku lekat menatap sekujur tubuhnya sementara
benakku membayangkan tubuh di balik pakaian yang menutup rapat
tubuhnya itu.Beberapa kali aku menelan ludah melihat cetakan garis BH
dan sekan-akan kulihat belahan buah dada yang montok itu di dada yang
tertutup jilbab lebar itu.Akupun sekarang senang mengamati Mbak Nurul
ketika dia menyapu halaman rumahnya saat sore hari .Melalaui sela-
sela jendela kamar kostku,aku melihat Mbak Nurul tengah membungkuk
menyapu.Pinggulnya yang terbungkus jubah pakaiannya nampak
menggiurkan .Aku berulangkali menelan ludah ketikat melihat celana
dalam yang dipakai Mbak Nurul tercetak jelas pada jubahnya saat dia
membungkuk untuk menyapu.Belahan pantatnya pun samar terlihat
membuatku jakunku naik turun menahan getaran birahi .Rasa-rasanya aku
ingin menyingkap jubah yang dipakai Mbak Nurul ke atas,sehingga aku
dapat melihat pantatnya yang montok itu.Namun aku hanya mampu
membayangkan saja yang kemudian diakhiri dengan onani.
Hampir seminggu sejak aku pertama kali aku mengintip Mbak Nurul yang
membuatku akhirnya menyimpan birahi kepada wanita berjilbab
tetanggaku itu. Rasa penasaranku bercampur birahi untuk melihat tubuh
Mbak Nurul di balik pakaiannya yang rapat kian menggebu.Aku selalu
mencari celah untuk mengintipnya seperti seminggu lalu,namun ternyata
tak ada sebuah lubang apapun di rumahnya untukku dapat mengintipnya
dalam keadaan tak berjilbab dan berjubah itu.Ternyata aku hanya punya
kesempatan mengintip sekali itu,karena jendela itu selesai selesai
diperbaiki sehari setelah aku mengintip melalui lubang-lubang pada
jendela yang rusak itu dan aku tak melihat ada celah untuk mengintip
Mbak Nurul lagi
Sampai siang itu.Faiz,anak pertama Mbak Nurul yang sering bermain ke
tempat kostku,tertidur di kamar kostku setelah dia lelah bermain.Aku
biarkan bocah laki-laki yang baru berusia 4 tahun ini lelap dalam
tidurnya,sementara aku mengutak-atik komputer yang kebetulan rusak di
kamarku.Setelah mengutak atik komputerku beberapa saat,aku harus
membeli beberapa kabel baru.Ketika aku melangkah ke arah pintu
berniat membeli kabel-kabel itu,aku mendengar ketukan dan suara salam
seorang wanita di pintu.Akupun membuka pintu seraya menjawab
salam,dan aku tertegun ketika ternyata Mbak Nurul yang ada di depan
pintu kostku dengan wajah pucat dan terlihat lelah.Siang ini dia
mengenakan jilbab putih lebar dengan jubah biru bermotif bunga serta
kaus kaki krem yang membungkus kedua kakinya.
“Maaf dik..lihat Faiz anak saya ,nggak?..saya sudah kemana-mana
mencarinya namun nggak ada.”tanya Mbak Nurul terdengar cemas
Aku tersenyum mendengar kecemasannya
“Ada kok mbak,lagi tidur di kamar saya”
Mbak Nurul menarik nafas dalam-dalam
“Syukurlah…biar saya ambil sekarang ”
“Terserah ,Mbak Nurul,”kataku seraya melangkah masuk dikuti wanita
berjilbab ini,mataku sempat melirik ke dada Mbak Nurul yang
montok,membuat kembali terbayang kemulusan buah dada montok yang
telanjang di dada ibu muda ini saat kuintip seminggu lalu.Aku menelan
ludah melihat dada Mbak Nurul yang tertutup jilbab putih lebar
itu,terlihat begitu montok menggiurkan.
“Tuh..masih tidur”kataku sambil menunjuk Faiz yang tengah lelap di
atas tempat tidurku..
Sesaat wajah cantik Mbak Nurul tampak bimbang melihat anak pertamanya
itu lelap dalam tidurnya. “Mungkin saya nitip anak saya dulu
dik..kasian kayaknya dia lelap sekali tidurnya,nanti sore aku
ambil..”desisnya lirih
Aku tersenyum mengangguk,tapi sedetik kemudian aku ingat aku harus
membeli kabel buat komputerku.
“Nggak papa mbak,tapi sebentar aku mau pergi beli kabel, boleh aku
minta mbak disini dulu sebentar ?” tanyaku”sampai aku kembali”
Mbak Nurul tersenyum lantas mengangguk, namun wajah cantiknya tampak
kuyu letih.
“Mm..Mbak Nurul kayaknya letih yah..Biar aku buatkan minum buat Mbak
Nurul sebentar,Mbak khan tamu di rumah ini,apalagi baru pertamakali
berkunjung,” kataku spontan.
Wajah yang terbalut jilbab putih lebar itu tersenyum
“Terserah adik..mbak memang haus”
Tak berapa lama kemudian,aku mengambil sebuah gelas yang aku tuangi
dengan syrup ABC jeruk serta air dingin dari kulkas.
Ketika aku tengah mengaduk minuman untuk Mbak Nurul,mataku menangkap
beberapa bahan kimiawi praktikum di mejaku.Aku tahu beberapa bahan
kimia itu mempunyai efek sebagai obat tidur.Sesaat aku merasa bimbang
ketika timbul keinginanku untuk mencampur minuman untuk Mbak Nurul
dengan bahan kimiawi tersebut.Aku berhenti mengaduk,mataku melirik
Mbak Nurul yang tengah duduk di karpet ruang tamu sambil membaca
sebuah majalah komputer milikku.Wajah cantik yang terbalut jilbab itu
begitu
mempesona,apalagi ketika kulihat ternyata ujung pakaian jubahnya agak
tertarik ke atas tanpa di sadarinya ,membuat salah satu betisnya
terlihat nyaris separuhnya.Walaupun betis Mbak Nurul saat ini
terbalut kaus kaki krem,namun betis yang terlihat nyaris separuh itu
terlihat begitu indah..dan keindahan apalagikah ketika ujung jubah
itu kian tertarik ke atas..tanpa sadar aku menelan ludah
membayangkannya,apalagi ketika teringat keindahan buah dada Mbak
Nurul yang pernah kulihat telanjang,membuat otakku kian dipenuhi
birahi terhadap wanita berjilbab yang kini duduk di karpet ruang tamu
kost Akhirnya tanpa ragu aku mencampurkan bahan kimia itu ke dalam
minuman dingin untuk Mbak Nurul,cukup untuk membuat wanita ini
terlelap.
“Silakan diminum Mbak..aku pergi beli kabel sebentar..”kataku dengan
dada berdebar-debar.
Mbak Nurul tersenyum sambil mengucapkan terima kasih,namun dia
terlihat agak gugup ketika tahu mataku tengah memperhatikan betisnya
yang tersingkap nyaris separuh itu.
“Terima kasih dik..ngrepotin aja”kata Mbak Nurul sembari membenahi
ujung jubahnya yg tertarik ke atas dengan sedikit tergesa,sehingga
betis itu kembali tertutup.Aku tersenyum penuh arti ketika tangan
Mbak Nurul membenahi ujung jubahnya dengan sedikit gugup dan wajah
yang bersemu merah.
Beberapa saat kemudian Honda GL ku meluncur meninggalkan tempat
kostku.Tak sampai 15 menit kemudian aku pun kembali.Jantungku
berdegup kencang
ketika aku memarkirkan sepeda motorku di teras,lantas aku membuka
pintu dengan tergesa-gesa.Aku nyaris terlonjak dengan jantung
berdegup kian kencang ketika mataku menatap ke ruang tamu kostku yang
hanya berlapis karpet biru itu.Mataku terbelalak melihat Mbak Nurul
ternyata telah tergeletak pulas di atas karpet ruang tamu.
“He he he he..ternyata bahan kimia itu bekerja baik”kataku sambil
mendekati tubuh Mbak Nurul yang tergeletak pulas,sementara gelas
minuman yang kuberikan untuknya terlihat kosong,tanpa setitik air di
dalamnya.
Aku tersenyum penuh nafsu,memandang wanita berjilbab tetanggaku yang
terlihat pulas terlentang di atas karpet ruang tamu kostku.Dengan
jantung berdegup kian kencang aku menghampiri Mbak Nurul,lantas
berlutut di sampingnya.Mataku lekat menatap wajah Mbak Nurul yang
mirip artis Marissa Haque ini.Wajah cantik berbalut jilbab putih
lebar itu kian terlihat cantik saat pulas tertidur membuatku kian
bernafsu.Kemudian mataku menatap dadanya yang naik turun dengan
teratur seiring nafasnya.Sepasang buah dada montok yang tertutup
jilbab putih lebar itu membuatku menelan ludah,sehingga sesaat
kemudian tanganku terulur menjamahnya.Aku merasa bermimpi ketika
tanganku dengan sedikit gemetar meraba-raba bukit montok di dada Mbak
Nurul yg masih tertutup jilbab lebar itu.
“Ohh..montoknya”desisku dengan nafas mulai tersengal,lantas sedetik
kemudian tanganku mulai meremas buah dada Mbak Nurul yang masih
tertutup jilbab putih yang
lebar itu.Aku nyaris tak percaya kalau siang ini aku dapat meremas
dada montok wanita berjilbab tetanggaku yang terlihat alim itu
“Ohh..Mbak Nurul…….!!”desahku ketika kemudian tanganku meremas
remas sepasang payudara kenyal di dada ibu muda beranak dua
ini.Semakin lama tanganku kian liar meremas buah dada Mbak Nurul
membuat jilbab putih yang dikenakannya kusut tak karuan.Tanganku
kemudian menyingkapkan jilbab putih yang menutupi dada montok itu ke
atas.Aku tersenyum ketika aku melihat tiga kancing pada bagian atas
jubah yang dipakai ibu muda ini.Tanganku terasa gemetar ketika
jemariku meraih tiga buah kancing yang rapat itu,lantas mulai
membukanya satu persatu. Perlahan-lahan kulit mulus di dada Mbak
Nurul yang putih mulai terlihat merangsang birahiku. Jakunku naik
turun dengan dada yang berdegup kian kencang .
. Birahiku kian liar bergolak,ketika tanganku semakin lebar
menyingkap bagian atas jubah Mbak Nurul yang terbuka itu.Belahan
payudara Mbak Nurul yang montok itu membuatku kemaluanku kian
mengeras dan mataku seakan tak berkedip melihat keindahan di dada
wanita berjilbab ini. Mataku pun mulai melihat,BH warna krem yang
membungkus sepasang payudara Mbak Nurul,saat aku menyingkapkan
semakin lebar bagian dada jubah yang dipakai wanita berjilbab ini.
Kemudian jubah yang dipakai Mbak Nurul aku tarik ke bawah sehingga
bagian atasnya tertarik kebawah melewati pundaknya,maka tersembulah
sepasang buah dada Mbak Nurul yang montok dan mulus
menggiurkan.Buah dada Mbak Nurul itu masih ketat terbungkus Bh wrana
krem yang dikenakan wanita berjilbab ini.
“Ooohh.. Mbak Nurul…montoknya”desisku sambil menahan birahi yang
kian menggelegak.Mataku liar melihat gundukan buah dada Mbak Nurul
yang masih tertutup BH warna krem.Kemudian dengan nafsu yang kian
menggelegak,tanganku menarik cup BH itu ke atas yang membuat buah
dada ibu muda ini tak tertutup lagi.
“Glek..ohh..Mbak Nurul….”desahku menahan birahi melihat payudara
Mbak Nurul yang kini
telanjang didepannya.Payudara telanjang di dada wanita berjilbab ini
begitu indah bentuknya.Walaupun Mbak Nurul telah beranak dua ,namun
sepasang buah dadanya masih terlihat kencang.Kulit Mbak Nurul yang
putih mulus dan puting susu kecoklatan yang terlihat mulai tegak
membuat buah dada wanita berjilbab ini kian menggiurkan nafsuku.
Dengan gemetar tanganku mencoba menjamah buah dada ibu muda
berjilbabvini.Aku seakan tak percaya mampu menjamah payudara seorang
wanita alim seperti Mbak Nurul ,yang sehari-hari kulihat selalu
menutup rapat sekujur tubuhnya dengan jilbab yang lebar dan jubah
panjang yang longgar.Namun ketika tanganku merasakan kehangatan dan
kekenyalan payudara Mbak Nurul yang montok,tubuhku mengigil menahan
birahi kian menggelegak.Kemudian dengan penuh nafsu
tanganku mulai meremas-remas payudara montok yang telanjang
itu.Sepasang payudara yang selama ini tersembunyi di balik jubah dan
jilbab lebar yang selalu dikenakan Mbak Nurul kali ini ada dalam
remasanku yang kian liar, “Mmm..Mbaak Nuruulll…mmmm…”desisku
sembari mempermainkan puting susu kecoklatan di dada Mbak Nurul
dengan jari-jariku.Aku merasakan puting susu ibu muda yang aku
pelintir ini kian
terasa tegak dan mengerasi.Nafasku memburu jalang,tubuhku menggigil
menahan birahi menggelegak ketika tanganku bermain di dada telanjang
wanita berjilbab ini.Beberapa lama aku meremas-remas buah dada Mbak
Nurul yang telanjang itu dengan tanganku ,sebelum aku mulai
menjilati payudara wanita berjilbab itu dengan lidahku dan
menciuminya penuh nafsu.
Aku merasakan sepasang buah dada Mbak Nurul yang telanjang itu kian
kencang mengeras ketika aku menciuminya dan menjilatinya,bahkan
ketika aku mengulum puting susu yang kecoklatan itu aku sempat
terkejut oleh rintihan dari mulut Mbak Nurul.Aku menatap wajah Mbak
Nurul yang
masih terbalut jilbab putihnya itu,namun aku lihat wajahnya masih
lelapdalm tidurnya hanya bibirnya memang mulai mendesah dan mengerang.
“ohhh..Mbak Nurul mulai terangsang…”desisku melihat keadaan wanita
berjilbab ini.
Desahan yang keluar dari bibir Mbak Nurul membuatku nafsu birahiku
kian liar.Mulutku kian liar menciumi dan menjilati payudara telanjang
didada wanita berjilbab ini.Puting susu yang kecoklatan itu aku kulum
dan aku hisap dengan bibir dan mulutku,membuat desahan Mbak Nurul
kian sering terdengar.Birahiku semakin terasa menggelegak jalang
mendengar rintihan dan desahan wanita berjilbab ini.Sempat terbayang
beberapa hari lalu,Mbak Nurul terlihat begitu anggun dengan jubah dan
jilbab lebarnya.Waktu itu aku hanya menelan ludah melihat tonjolan
montok di dada yang tertutup jilbab lebar itu.Namun saat ini,payudara
wanita berjilbab itu dapat aku nikmati sepuas
birahiku.
Cukup lama aku memuaskan nafsuku pada kedua payudara montok Mbak
Nurul yang telanjang tanpa penutup itu.Aku melihat Mbak Aan semakin
jalang mendesah dan merintih dalam tidurnya tiap kali aku menghisap
dan menjilati dan menciumi kedua buah dadanya yang montok mengiurkan
itu.Gila..baru pertama kali ini aku melihat seorang wanita berjilbab
merintih begitu jalang dan
liar,oleh birahi yang mencengkeramnya.
Setelah aku puas dengan payudara Mbak Nurul,mataku beralih menatap
bagian bawah tubuh ibu muda berjilbab ini.Aku melihat walapun
beberapa kali,Mbak Nurul menggeliat dan mengejang menahan rangsangan
birahi dariku,namun ujung jubah yang dikenakan Mbak Nurul tidak
sampai tersingkap,Bagian bawah Mbak Nurul masih rapi tertutup oleh
jubah panjang yang dipakainya sehingga hanya terlihat kakinya yang
terbungkus kaus kaki warna krem.Sesaat terbayang dalam benakku,rasa
penasaranku selama ini yang membuatku ingin menyingkap jubah yang
dipakai Mbak Nurul.Perlahan kemudian aku mendekati kaki Mbak Nurul
yang masih tertutup jubah yang dipakainya.Dengan sedikit
gemetar,tanagnku terulur menyingkap jubah biru kembang yang
dipakai Mbak Nurul dengan.Jantungku berdegup kencang ketika jubah itu
mulai aku singkap ke atas,mataku mulai melihat sepasang betis Mbak
Nurul yang indah bentuknya.Sepasang betis yang indah ini masih
terbungkus kaus kaki warna krem yang agak tipis.Tanganku semakin
gemetar ketika ujung jubah biru itu aku singkap semakin ke atas
menyusuri kaki Mbak Nurul.Mataku kian membesar melihat ujung jubah
yang tengah aku tarik ke atas itu mulai melewati lutut waniat
berjilbab ini.Aku baru tahu,ternyata kaos kaki katun yang dipakai
Mbak Nurul cukup panjang, hampir seluruh betisnya tertutup oleh kaus
kaki krem yang dipakainya.Nafasku kian mendengus kasar menahan nafsu
birahiku saat ujung jubah itu aku singkap ke atas melewati kedua
lututnya,dan mataku nyaris tak berkedip melihat keindahan yang
terpampang dibalik jubah yang aku singkap semakin ke atas.Akhirnya
ujung jubah biru yang semula rapat menutup tubuh ibu muda ini
tersingkap hingga ke pinggangnya.Sepasang kaki wanita berjilbab itu
kini tidak lagi tertutup jubah panjang itu.
“Ohh..Mbak Nurul..”desisku dengan mata nyaris tak berkedip melihat
pemandangan di depanku.Sepasang paha putih Mbak Nurul yang telanjang
itu tampak mulus menggiurkan.Paha putih mulus itu masih terlihat
kencang dan bulat padat.Tetapi yang membuat tubuhku menggigil hebat
menahan birahi,ketika mataku menatap pangkal paha Mbak Nurul yang
telanjang.mataku melotot melihat kemontokan bukit kemaluan wanita
berjilbab yang masih tertutup celana dalam itu.Celana dalam biru yang
dipakai Mbak Nurul termasuk tipis untuk menyembunyikan gundukan
kemaluan ibu muda ini sehingga mataku secara samar, mampu melihat
bayangan bulu-bulu kemaluan dan belahan bibir kemaluan ibu muda
berjilbab ini.Tubuhku gemetar melihat keindahan yang luar biasa ini
dan batang kemaluanku terasa kian keras.
“Ohh..mbak Aaan..Ohhh”desisku gemetar dengan mulut ternganga melihat
keindahan di depan mataku.Terbayang kembali beberapa hari lalu,aku
selalu melihat Mbak Nurul adalah seorang wanita berjilbab lebar dan
berjubah panjang membuatnya terlihat begitu alim.Beberapa menit yang
lalu sebelum pulas terpengaruh oleh minuman dariku,Mbak Nurul masih
gugup dan terlihat malu ketika ujung jubahnya tersingkap yang hanya
memperlihatkan separuh betisnya.Namun saat
ini hampir tak kupercaya kalau aku telah melihat keindahan yang
selama ini tersembunyi di balik jilbab lebar dan jubah panjang Mbak
Nurul itu.Aku menelan ludah berkali-kali dengan birahi kian
menggelegak melihat pemandangan di depanku.Seorang perempuan berparas
cantik dengan jilbabnya yang lebar serta jubah biru bermotif bunga
tergolek dengan sepasang buah dada yang
menyembul telanjang dan bagian bawah jubahnya tersingkap hingga ke
perut memperlihatkan kemulusan sepasang pahanya dan celana dalam yang
dikenakannya.Tubuhku menggigil penuh birahi yang menggelegak melihat
keindahan yang langka ini.
Mbak Nurul masih terlihat pulas dalam pengaruh obat tidur yang
kucampurkan dalam minuman untuknya.Kedua mata di wajah cantiknya yang
terbalut jilbab lebar putih masih tertutup dengan rapat,walaupun
wanita berjilbab ini sempat merintih dan mengerang saat kurangsang
sepasang payudara di dadanya.Berulang kali aku menelan ludah
sementara penisku sudah mengeras oleh desakan birahi melihat keadaan
Mbak Nurul saat ini.Ibu muda tetanggaku yang selama ini tak pernah
kulihat kecuali wajah cantiknya dan telapak tangannya, saat ini
kulihat setengah telanjang tergeletak di depanku.Jilbab putih lebar
yang beberapa menit lalu masih rapi menyembunyikan kemontokan
dadanya,saat ini tersingkap ke atas dengan jubah yang terbuka pada
bagian dadanya dan BH yang tersingkap,sehingga sepasang buah dada
wanita berjilbab beranak dua yang selama ini tersembunyi,terpampang
menggiurkan tanpa penutup,.
Dengan birahi yang menggelegak,aku bergeser mendekati kaki Mbak Nurul
yang terbuka itu.Aku melihat sepasang betis yang indah itu masih
terbungkus kaus kaki warna krem yang cukup panjang hampir menutupi
betisnya.Dengan sedikit gemetar,aku mengulurkan tanganku melepas
sepasang kaus kaki warna krem itu dari kaki Mbak Nurul.Aku kembali
menelan ludah melihat kemulusan betis Mbak Nurul yang kini telanjang
di depanku.Aku sempat tersenyum teringat beberapa menit lalu,ketika
Mbak Nurul gugup terlihat separuh betisnya olehku karena jubah yang
dipakainya tersingkap.Namun setelah wanita berjilbab ini pulas dalam
pengaruh obat tidurku,aku bukan hanya mampu melihat betisnya namun
juga menjamahnya bahkan lebih.
Telapak kaki Mbak Nurul terlihat putih kemerahan,ketika tanganku
meraihnya terasa halus di tanganku.Beberapa saat aku mengelusnya
sebelum kemudian bibirku mulai menciumi telapak kaki yang bersih dan
halus itu.Nafasku memburu kian cepat ketika dengan bernafsu aku
menciumi dan menjilati telapak kaki wanita ini.Telapak kaki wanita
berjilbab yang telanjang itupun terlihat berkilat oleh bekas
jilatanku yang liar.Kemudian dengan penuh birahi,bibirku menyusuri
kaki Mbak Nurul semakin ke atas.Aku menciumi dan menjilati sepasang
betis wanita berjilbab ini yang tak pernah kulihat sebelumnya karena
selalu tertutup oleh pakaian panjangnya.Betis putih mulus yang indah
dan ditumbuhi rambut-rambut halus itu terasa hangat di bibirku dan
lidahku yang menjilatinya.Libidoku kian menggelegak saat bibir dan
lidahku menciumi serta menjilati betis indah Mbak Nurul yang tak
pernah kulihat sebelumnya ini.Nafasku terengah-engah oleh desakan
birahiku yang kian liar.
Saat bibir dan lidahku menciumi dan menjilati kemulusan betis Mbak
Nurul,tanganku menyusuri kaki wanita berjilbab ini kian ke
atas.Tanganku mengelus-elus paha mulus Mbak Nurul yang telanjang dan
bulat padat ini.Begitu halus, lembut dan hangat kulit Mbak Nurul aku
rasakan.Ketika menyentuh paha yang ditumbuhi bulu-bulu halus, aku
merasakan kehangatan yang makin terasa mengalir ke telapak
tangannya.Kemaluanku menjadi kian menegang keras dan membuat celanaku
terasa sesak dan ketat. Jantungku makin berdegup kencang ketika aku
meneruskan belaian tanganku makin jauh ke arah pangkal kaki waniat
berjilbab yang mulus. Kulit tanganku merasakan hawa yang makin hangat
dan lembab ketika tanganku makin jauh menggerayangi pangkal kaki
Mbak Nurul yang bak belalang itu. Gerakan tanganku terhenti ketika
tanganku mulai menyentuh gundukan daging yang begitu lunak dan
hangat,namun terasa masih terbungkus kain celana dalam. Beberapa saat
aku meraba-raba gundukan daging lunak hangat itu mengelus-
elusnya,yang ternyata kembali membuat Mbak Nurul merintih dan
mengerang oleh rabaanku pada gundukan di selangkangannya.Bahkan
semakin lama aku semakin gemas,sehingga kemaluan montok wanita
berjilbab yang masih terbungkus celana dalam itu bukan hanya aku elus-
elus,namun tanganku lantas meremas-remasnya penuh nafsu.
Aku sempat melirik wajah Mbak Nurul yang masih terbalut
jilbabnya,ketika wanita cantik ini merintih bahkan tubuhnya
menggeliat.Aku hanya menyeringai ketika aku melihat wanita berjilbab
ini tidak menunjukkan tanda-tanda sadar dari pengaruh obat
tidurku.Akupun kembali menciumi dan menjilati kaki telanjang ibu muda
berjilbab yang tak pernah kulihat mulusnya saat sebelumnya.Tanganku
masih meremas-remas kemaluan montok di selangkangan Mbak Nurul ketika
aku menciumi dan menjilati sepasang paha mulusnya.Sepasang paha putih
ibu muda berjilbab yang mulus itu terasa hangat di bibir dan lidahku
membuatku semakin terangsang oleh birahi.Paha yang bulat indah dan
ditumbuhi bulu-bulu halus itupun terlihat mengkilat oleh jilatan
lidahku dan ciuman bibirku.Aku melihat Mbak Nurul masih merintih-
rintih dan tubuhnya menggeliat-geliat,bahkan kian lama rintihan
wanita berjilbab itu kian terdengar jalang membuatku kian
bernafsu.Akhirnya ciuman dan jilatanku terhenti ketika bibirku telah
merasakan lembab dan hangatnya pangkal paha Mbak Nurul. Aku
menghentikan remasanku pada gundukan kemaluan Mbak Nurul yang masih
tertutup celana dalam biru.Celana dalam yang dipakai ibu muda ini
terlihat kusut karena remasan jari-jariku yang liar dan
bernafsu.Dengan birahi yang menggelagak tanganku kini menarik celana
dalam krem yang menutupi bagian tubuh Mbak Nurul yang paling pribadi
ini.Mataku seakan tak berkedip,ketika celana dalam yang dipakai Mbak
Nurul aku tarik ke bawah.Bermula dari tersembulnya rambut kemaluan
yang cukup lebat dan hitam itu,aku terus menarik turun celana dalam
itu. Dan aku seakan terpakau ketika aku menraik celana dalam itu kian
ke bawah,belahan kemaluan ibu muda yang kemerahan itu pun tersembul
begitu menggiurkan.Akhirnya sesaat kemudian bagian tubuh wanita
berjilbab yang paling tersembunyi inipun terpampang tanpa penutup di
depanku.Tubuhku mengigil oleh birahi melihat kemaluan telanjang Mbak
Nurul di depanku ini.Terbayang kembali di benakku ,akan sebuah hasrat
yang menjadi angan-anganku selama ini untuk menyingkap jubah Mbak
Nurul dan melihat keindahan di baliknya.Aku tak mengira bahwa
keinginanku akan terwujud siang ini tanpa kesulitan sedikitpun.
Mataku lekat menatap kemaluan Mbak Nurul yang ditumbuhi rambut cukup
lebat namun terlihat rapi.Dengan libido semakin menggelagak,aku
membuka kedua paha wanita berjilbab ini lantas aku membenamkan
kepalaku diantara kedua paha putih mulus itu.Bibirku segera menciumi
kemaluan wanita berjilbab yang ditumbuhi rambut cukup lebat
itu.Nafasku terengah-engah diantara kedua paha mulus Mbak
Nurul.Bibirku dengan bernafsu menciumi permukaan kemaluan ibu muda
ini dengan liar.Mbak Nurul makin jalang merintih dan
mengerang,tubuhnya menggeliat menahan rangsangan birahi di bagian
tubuhnya yang paling rahasia itu.Lidahkupun bergantian menjilati
permukaan kemaluan wanita berjilbab ini sehingga rambut kemaluan Mbak
Nurul terlihat basah.
Sambil membelai-belai rambut dan menjilati yang mengitari kemaluan
Mbak Nurul , Aku menghirup-hirup aroma harum khas kemaluan yang
menyengat dari kemaluan wanita berjilbab ini,lantas aku pun
meneruskan dengan jilatan ke seluruh sudut selangkangan Mbak Nurul .
Sehingga kini kemaluan wanita berjilbab di depanku basah oleh air
liurku.Tangankupun membuka bibir kemaluan Mbak Nurul lantas aku
julurkan lidahku ke arah klitoris dan menggelitik bagian itu dengan
ujung lidahku. Mbak Nurul yang masih belum tersadar dari pengaruh
obat tidurku makin jalang merintih dan tubuhnya makin kerap
menggelinjang,ketika bagian kewanitaan yang paling sensitif ini aku
jilati. Aku merasakan ada pijitan-pijitan lembut dari lubang vagina
Mbak Nurul yang membuat lidahku seperti dijepit-jepit. Makin lama
lubang itu makin basah oleh cairan bening yang agak lengket yang
terasa asin di lidahku. Mbak Nurul kini makin keras mengerang dan
terengah-engah dalam tidurnya. Rupanya ia merasakan kenikmatan dalam
mimpi, ketika kemaluannya aku ciumi dan aku jilati. Pinggulnya mulai
menggelinjang dan kakinya ikut menggeliat.
Melihat tingkah Mbak Nurul yang begitu merangsang menggairahkan,aku
tak mampu menahan gelegak birahiku.Aku segera menurunkan celana
training beserta celana dalamku,sehingga mencuatlah batang penisku
yang besar dan panjang serta tegak mengeras kemerahan.Perlahan-lahan
kedua kaki Mbak Nurul kutarik melebar,sehingga kedua pahanya
terpentang. Kedua lututku melebar di samping pinggul wanita berjilbab
ini lantas tangan kananku menekan pada karpet, tepat disamping tangan
Mbak Nurul , sehingga sekarang aku berada dalam posisi setengah
merangkak di atas wanita ini.Tangan kiriku memegang batang
penisku.Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan pada belahan bibir
kemaluan Mbak Nurul yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar
itu kugosok-gosok dengan hati-hati pada bibir kemaluan wanita
berjilbab tetanggaku ini. Terdengar suara erangan perlahan dari mulut
Mbak Nurul dan badannya agak mengeliat, tapi matanya masih tetap
tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah
bibir kemaluan ibu muda berjilbab yang cantik ini.
Sekarang kepala kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan Mbak
Nurul . Dari mulut wanita berjilbab ini tetap terdengar suara
mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai
gelisah,agaknya Mbak Nurul mulai sadar. Aku tidak mau mengambil
resiko, sebelum Mbak Nurul sadar, aku sudah harus memasukkan penisku
ke dalam kemaluan ibu muda tetanggaku ini.
Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku, kutekan
perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku
mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan wanita berjilbab ini.
Kelihatan sejenak kedua paha Mbak Nurul bergerak melebar, seakan-akan
tak mampu menampung desakan penisku ke dalam lubang kemaluannya.
Badannya tiba-tiba mulai bergetar menggeliat dan lantas kedua matanya
mendadak terbuka, terbelalak bingung, memandangku yang sedang
bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan dia siap untuk
berteriak. Dengan cepat aku memagut bibir Mbak Nurul untuk mendekap
mulutnya agar jangan berteriak. Karena
gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga
lagi,akibatnya seluruh berat pinggulku langsung menekan ke bawah,
sehingga tidak dapat dicegah lagi penisku menerobos masuk ke dalam
lubang kemaluan Mbak Nurul dengan cepat.
Badan Mbak Nurul tersentak ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk
dirapatkan,sedangkan kedua tangannya terlihat refleks mendorong ke
atas, menolak dadaku. Dari mulutnya keluar suara jeritan, tapi
tertahan oleh bekapan bibirku yang melumat mulutnya.
“Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!” desahnya tidak jelas.Kemudian
badannya mengeliat-geliat dengan hebat dan meronta-ronta, kelihatan
Mbak Nurul sangat kaget luar biasa melihatku tengah
menindihnya.Meskipun Mbak Nurul meronta-ronta hebat, akan tetapi
bagian pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh pinggulku
dengan rapat. Karena gerakan-gerakan wanita berjilbab
ini dengan kedua kakinya yang meronta-ronta itu, penisku yang telah
terbenam di dalam vagina Mbak Nurul terasa dipelintir-pelintir dan
seakan-akan dipijit-pijit oleh otot-otot dalam vagina ibu muda ini.
Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.
Cukup lama wanita berjilbab ini meronta-ronta hebat sebelum akhirnya
rontaan Mbak Nurul ini mulai melemah .Nafasnya memburu dengan mata
yang menyorot tajam ke arahku penuh kemarahan dan kebencian.Wajah
yang masih terbalut jilbab putih lebarnya itu kini merah padam,namun
kemudian mata yang menyorot tajam itu terpejam,bahkan air matapun
mengalir deras dari kedua matanya membasahi jilbab putih yang masih
membalut wajahnya.Aku tidak memperdulikan semua itu bahkan aku justru
mulai menggerakan penisku yang terjepit dalam kemaluan Mbak
Nurul .Aku terus menggerak-gerakkan penisnya naik-turun perlahan di
dalam liang kemaluan ibu muda yang hangat itu. Liang itu berdenyut-
denyut, seperti mau melumat kemaluanku. Rasanya nikmat luar
biasa.Sembari terus menggerakan penisku naik turun,tanganku kembali
menggerayangi payudara putih mulus yang sudah mengeras bertambah liat
itu.Tanganku meremas perlahan, sambil sesekali dipijit-pijitnya
bagian puting susu yang sudah mencuat ke atas. Beberapa menit
kemudian aku melihat kian lama air mata dari mata Mbak Nurul yang
terpejam mulai menyusut bahkan kembali aku merasakan,wanita berjilbab
ini mulai kembali terengah seperti sebelum tersadar dari pengaruh
obat tidurku.
Dengan dada berdebaran melihat perubahan pada Mbak Nurul ,aku
melepaskan lumatan bibirku pada mulutnya dan aku nyaris
terpekik,ketika aku melepaskan bibirku dari mulut Mbak Nurul.Ternyata
mulut Mbak Nurul tengah merintih dan mengerang,membuatku kian liar
menggerakan penisku naik turun pada kemaluan ibu muda ini.Seakan aku
baru menyadari kalau wanita cukup lama ditinggal suaminya mencari
nafkah ke luar negeri,sehingga walapun mungkin hatinya menolak
perlakuanku,namun tubuhnya tidak bisa menyembunyikan kenikmatan yang
didapatnya.Bahkan semakin lama aku merasakan pinggul Mbak Nurul ikut
bergoyang mengikuti gerakan penisku yang naik turun dalam jepitan
kemaluannya.Semakin lama rintihan Mbak Nurul kian jalang dan
tubuhnyapun menggelinjang merasakan nikmat yang lama tak didapatinya
walaupun matanya masih terpejam.Dan akupun merasakan semakin nikmat
luar biasa yang memelintir penisku dalam vagina ibu muda berjilbab
ini.
Cukup lama tubuhku naik turun menyetubuhi ibu muda berjilbab
tetanggaku ini.Nafasku terengah disertai desahan kenikmatan di atas
tubuh Mbak Nurul yang juga merintih dan menggelinjang dengan
jalang.Semakin lama aku semakin merasakan nikmat pada penisku
sehingga beberapa menit kemudian aku merasakan hendak sampai ke
puncak kenikmatanku.Dengan sepenuh tenaga aku menekan pinggulku kuat-
kuat sehingga ujung penisku menyentuh dasar kemaluan Mbak Nurul lalu
dengan geram yang cukup keras aku menuntaskan kenikmatan luar biasa
yang kurasakan saat penisku memuntahkan cairan hangat cukup banyak
dalam liang kemaluan Mbak Nurul .
Aku menggeram penuh kenikmatan “Ahhhhh..Mbak
Nuruuullll..Ahhhhhh..Enaaakk.”
desahku sambil memeluk Mbak Nurul erat-erat.Beberapa saat aku
menikmati orgasmeku sebelum
akhirnya aku lunglai di atas tubuh wanita berjilbab ini.Nafasku
terengah-engah letih namun aku merasakan kenikmatan yang luar biasa
yang sulit terlukiskan.
Baru sekejap aku lunglai,aku tersentak ketika aku merasakan tubuh
Mbak Nurul bergetar hebat,lantas tanpa aku duga tangannya memelukku
kuat-kuat dan kedua pahanya melingkar memeluk pinggangku dengan
ketat.Wanita berjilbab ini memiawik kenikmatan ketika kurasakan
penisku yang masih terjepit dalam kemaluannya terasa tersedot-sedot
sebelum akhirnya terguyur cairan hangat yang membasahi batang
penisku. . “Ahhh..sssahhhh…enaaaaak…a hhhhhhh”pekik Mbak Nurul
yang masih berbalut jilbab putih sambil memelukku tubuhku kuat-
kuat.Rupanya wanita berjilbab ini telah sampai pada puncak
kenikmatannya.Beberapa saat aku merasakan ibu muda berjilbab ini
dalam orgasme hingga akhirnya kedua tangannya yang semula memelukku
terkulai lemas dan kedua kakinya yang semula menjepit pinggangku
kembali tergolek lemas.Aku pun segera mencabut kemaluanku dan
terlentang di sebelah Mbak Nurul yang terpejam kenikmatan.
Beberapa saat suasana sunyi,hanya terdengar nafasku dan nafas Mbak
Nurul yang berangsur normal.Namun beberapa saat kemudian aku
dikagetkan oleh Mbak Nurul yang tiba-tiba menjerit histeris.Aku
tergagap bangun dan kulihat wanita berjilbab ini duduk dengan
menatapku penuh kebencian dan kemarahan,bibirnya terlihat gemetar
dengan wajah yang merah padam.Tubuhnya pun terlihat menggigil hebat
dengan nafas yang memburu.
“Kenapa Mbak?..bukankah Mbak Nurul juga ikut menikmati??”ujarku
sambil tersenyum penuh arti kepada wanita tetanggaku ini
“Tidaaaaaaaaaaaak..!!!!!!!!”pe kik Mbak Nurul membuatku kaget.
Tapi belum sempat aku berkata kembali, tiba-tiba Mbak Nurul telah
bangkit lantas membenahi jilbab dan pakaiannya dengan tergesa-
gesa.Aku hanya mampu memandangnya ketika wanita berjilbab ini
kemudian berlari keluar dari rumahku.Wajah cantiknya terlihat merah
padam,dan aku lihat air mata mengalir menyusuri pipinya.
Beberapa saat aku termangu-mangu memandang kibaran jilbab putih yang
lebar yang dipakai Mbak Nurul, saat ibu muda ini berlari keluar dari
rumahku menuju rumahnya.Setelah wanita berjilbab itu hilang dari
pandanganku aku menyeringai puas..
“Ternyata aku tak hanya mampu melihat keindahan tubuh yang selalu
tertutup jilbab dan pakaian panjang itu,bahkan aku juga mampu
menikmatinya..hehehehe..”bisik ku sambil terkekeh.
Aku masih tenggelam dalam lamunanku ketika akhirnya aku dikagetkan
suara Faiz yang rupanya bangun dari tidurnya di kamarku.
“Oom Faiz mau pulang ” katanya .
Aku tersenyum memandang anak sulung Mbak Nurul ini. .
“Ya hati-hati yah..salam buat ibumu..ibumu memang
cantik,mulus,sintal,dan hebat luar biasa,cah
bagus …..hehehehehehe!!”kataku sambil terkekeh membuat bocah cilik
ini terheran-heran.
Keluarga Pak Rusdi.Pegawai Pemda DKI ini tinggal bersama istrinya dan
menantunya yang biasa dipanggil Mbak Nurul oleh para tetangga
lainnya. Mbak Nurul yang telah mempunyai anak dua itu tinggal bersama
mertuanya, karena suaminya mencari nafkah ke Kuwait hampir
setahun yang lalu. Usia Mbak Nurul aku taksir sekitar 30 tahunan,atau
tepatnya 31 tahun ketika aku tak sengaja mendengar salah seorang ibu
tetangga menanyakan usia menantu Pak Rusdi ini.
Satu hal yang menarik dari menantu Pak Rusdi ini,adalah pakaian yang
dikenakannya sehari hari.Ibu muda ini selalu berpakaian menutup rapat
sekujur tubuhnya kecuali wajahnya dan telapak tangannya. Ibu Muda
beranak dua ini selalu kulihat memakai jilbab yang lebar dan pakaian
yang panjang longgar hingga mata kaki,bahkan sepasang kakinya selalu
kulihat memakai kaos kaki kadangkala berwarna krem atau
putih.Sebenarnya aku tidak terlalu memperdulikan menantu Pak Rusdi
yang kelihatan alim itu,namun kalau aku berangkat kuliah,aku sering
ketemu Mbak Nurul pulang dari belanja di pasar.Setiap kali
bertemu,Mbak Nurul selalu menyapaku ramah dan melempar senyum
manisnya yang membuat aku menyadari Mbak Nurul mempunyai paras wajah
yang cantik.Wajah wanita tetanggaku yang selalu terbalut jilbab lebar
ini mirip sekali dengan aktris Marissa Haque.
Satu setengah bulan sudah aku kost di Depok,dan kadang kala aku
berpikiran tentang Mbak Nurul yang cantik itu.Apakah Mbak Nurul tidak
merasa kesepian ditinggal begitu lama oleh suaminya,namun melihat
Mbak Nurul yang alim itu aku nggak berani berpikir kotor kepada
wanita ini.”Keindahan yang tersembunyi”gumamku kalau mengingat Mbak
Nurul yang berwajah mirip aktris Marissa Haque,namun tubuhnya selalu
tersembunyi dalam pakaian dan jilbab panjangnya yang rapat.Tubuh Mbak
Nurul pun kulihat cukup
tingi untuk ukuran wanita,aku pernah melihat ibu muda ini sama tinggi
dengan Pak Rusdi ketika dia berjalan bersama Pak Rusdi,dan aku tahu
tinggi mertua Mbak Nurul ini 165 cm,berarti tinggi Mbak Nurul juga
165 cm.
.
Senja itu aku baru pulang dari praktikum kimia.Hari sudah mulai
gelap,termasuk daerah di sekitar kostku.Waktu aku lewat di samping
rumah Pak Rusdi,aku melewati salah satu jendela di rumah Pak Rusdi
yang memang sedang diperbaiki.Mungkin karena sedang
diperbaiki,jendela itu tidak tertutup sempurna.Aku melihat ada
beberapa lubang kecil pada jendela yang tengah diperbaiki itu dari
sinar lampu dalam rumah yang keluar lewat lubang-lubang kecil
itu.Melihat lubang-lubang kecil itu timbul rasa isengku untuk
mengintip ke
dalam.Dengan hati-hati aku segera menempelkan mataku pada lubang-
lubang kecil tersebut,beberapa saat kemudian aku menemukan lubang
yang cukup besar untuk mengintip.Ternyata jendela tersebut adalah
jendela sebuah kamar,entah kamar siapa.Beberapa saat aku mengintip
melalui lubang tersebut,namun keadaan kamar yang terang benderang itu
terlihat sepi.Ketika aku hendak mengakhiri aktivitas mengintipku,tiba-
tiba aku melihat pintu kamar itu terbuka dan aku lihat seorang masuk
ke dalam kamar.Aku belum begitu jelas siapa orang itu,namun setelah
orang itu sampai ke tempat yang lebih terang aku baru melihat
ternyata orang tersebut adalah seorang wanita muda.Agaknya wanita itu
baru selesai mandi ketika aku melihat rambut panjang ikalnya yang
basah serta handuk yang melilit tubuhnya.Sesaat aku heran, karena aku
tak mengenal dan tak pernah melihat perempuan berkulit putih ini
sebelumnya Namun sekejap kemudian darahku terkesiap ketika aku
mengamati wajah perempuan ini lebih seksama.
“Mbak Nurul!!”desisku tertahan.Wajah cantik Mbak Nurul yang mirip
Marissa Haque teramat mudah dikenali.Tubuhku sesaat menggigil
menyadari perempuan yang tengah kuintip ini adalah Mbak Nurul yang
alim berjilbab itu.Aku tak pernah melihat tubuhnya kecuali hanya
wajahnya yang terbalut jilbab lebar serta telapak tangannya yang
putih terlihat halus.Namun saat ini perempuan berjilbab itu aku lihat
hanya berlilitkan handuk pada tubuhnya.Mendadak timbul keinginanku
untuk mengintip Mbak Nurul yang agaknya hendak berganti pakaian
setelah dia mandi.Dengan berdebar-debar aku berusaha lebih jelas
melihat melalui lubang kecil tersebut,namun aku harus kecewa karena
dari lubang pengintip itu,aku hanya mampu melihat tubuh Mbak Nurul
sampai dari kepala sampai ke
pinggangnya karena pandangan dari sebagian lubang pengintip itu
memang tertutup sebuah lemari buku. Walaupun hanya sebagian tubuh
Mbak Nurul yang terlihat,tubuhku sudah menggigil menahan
birahi.Mataku membuka lebar-lebar ketika aku lihat Mbak Nurul melepas
handuk putih yang melilit tubuhnya.Aku yakin tubuh menantu Pak Rusdi
saat ini telanjang bulat.Sayangnya aku hanya mampu melihat dari
kepalanya hingga ke pinggangnya.
Aku menelan ludah berkali-kali melihat keindahan tubuh Mbak Nurul
yang terlihat lewat lubang pengintip.Mataku lekat menatap leher
jenjang ibu muda ini yang terlihat mulus menggiurkan,lantas mataku
menyusuri ke bawah hingga kulihat sepasang buah dada Mbak Nurul yang
telanjang. Nafasku mulai terengah dan kemaluanku pun mulai tegang
ketika mataku lekat di dada Mbak Nurul .Sepasang payudara ibu muda
yang cukup montok ini masih terlihat kencang,walaupun tidak sekencang
payudara seorang perawan.Kulitnya yang putih mulus dengan puting susu
yang kecoklatan membuat buah dada Mbak Nurul terlihat menggiurkan dan
membangkitkan birahiku Namun aku hanya mampu menikmati keindahan
payudara Mbak Nurul saja,karena ketika mataku menyusuri ke bawah
payudaranya,lemari buku sialan itu menghalangi pandanganku,padahal
aku tahu Mbak Nurul tengah telanjang bulat saat ini.Nafasku terengah-
engah melihat Mbak Nurul yang kemudian mengenakan BH untuk menutupi
sepasang buah dadanya yang sedang menjadi santapan mataku.Aku
mengakhiri keasyikanku ketika Mbak Nurul telah mengenakan
pakaian,sebuah jubah panjang berbunga-bunga.Akhirnya aku kembali ke
tempat kostku yang terletak di samping rumah Pak Rusdi dengan birahi
yang memuncak.Rasa seganku kepada Mbak Nurul yang berjilbab itu
berganti rasa birahi yang membakar.Ketika aku di kamar, aku mengocok
kemaluanku sembari membayangkan kedua buah dada Mbak Nurul kulihat
telanjang tadi.Aku membayangkan yang sedang mengocok-ngocok
kemaluanku adalah tangan Mbak Nurul dengan dada montoknya yang
telanjang…mmm..aku cuma bisa mendesah-desah dan menggigit bibirku
menahan nikmat.,sampai akhirnya aku mencapai puncak kenikmatanku
ketika tubuhku bergetar hebat disertai muncratnya air mani kental
dari ujung penisku dan eranganku menyebut nama wanita tetanggaku
itu ,membayangkan keindahan yang kuintip tadi.
“Ohhhh..mmm..ahhhh…sshhh h.. Mbaak
Nuruuullll…ahhhhh..enaaaaakk kk..ahhhhhhh!!!”
desahku di di ujung kenikmatanku sebelum aku tergeletak lemas. .
Sejak saat itu rasa seganku kepada wanita berjilbab ini lenyap justru
aku selalu membayangkan tubuh Mbak Nurul dalam onaniku.Aku
mengkhayalkan keindahan tubuh di balik pakaian jubah panjang dan
jilbab lebar yang selalu dikenakan ibu
beranak dua ini.Setiap kali aku ketemu Mbak Nurul dalam jilbab lebar
dan jubah panjangnya,mataku lekat menatap sekujur tubuhnya sementara
benakku membayangkan tubuh di balik pakaian yang menutup rapat
tubuhnya itu.Beberapa kali aku menelan ludah melihat cetakan garis BH
dan sekan-akan kulihat belahan buah dada yang montok itu di dada yang
tertutup jilbab lebar itu.Akupun sekarang senang mengamati Mbak Nurul
ketika dia menyapu halaman rumahnya saat sore hari .Melalaui sela-
sela jendela kamar kostku,aku melihat Mbak Nurul tengah membungkuk
menyapu.Pinggulnya yang terbungkus jubah pakaiannya nampak
menggiurkan .Aku berulangkali menelan ludah ketikat melihat celana
dalam yang dipakai Mbak Nurul tercetak jelas pada jubahnya saat dia
membungkuk untuk menyapu.Belahan pantatnya pun samar terlihat
membuatku jakunku naik turun menahan getaran birahi .Rasa-rasanya aku
ingin menyingkap jubah yang dipakai Mbak Nurul ke atas,sehingga aku
dapat melihat pantatnya yang montok itu.Namun aku hanya mampu
membayangkan saja yang kemudian diakhiri dengan onani.
Hampir seminggu sejak aku pertama kali aku mengintip Mbak Nurul yang
membuatku akhirnya menyimpan birahi kepada wanita berjilbab
tetanggaku itu. Rasa penasaranku bercampur birahi untuk melihat tubuh
Mbak Nurul di balik pakaiannya yang rapat kian menggebu.Aku selalu
mencari celah untuk mengintipnya seperti seminggu lalu,namun ternyata
tak ada sebuah lubang apapun di rumahnya untukku dapat mengintipnya
dalam keadaan tak berjilbab dan berjubah itu.Ternyata aku hanya punya
kesempatan mengintip sekali itu,karena jendela itu selesai selesai
diperbaiki sehari setelah aku mengintip melalui lubang-lubang pada
jendela yang rusak itu dan aku tak melihat ada celah untuk mengintip
Mbak Nurul lagi
Sampai siang itu.Faiz,anak pertama Mbak Nurul yang sering bermain ke
tempat kostku,tertidur di kamar kostku setelah dia lelah bermain.Aku
biarkan bocah laki-laki yang baru berusia 4 tahun ini lelap dalam
tidurnya,sementara aku mengutak-atik komputer yang kebetulan rusak di
kamarku.Setelah mengutak atik komputerku beberapa saat,aku harus
membeli beberapa kabel baru.Ketika aku melangkah ke arah pintu
berniat membeli kabel-kabel itu,aku mendengar ketukan dan suara salam
seorang wanita di pintu.Akupun membuka pintu seraya menjawab
salam,dan aku tertegun ketika ternyata Mbak Nurul yang ada di depan
pintu kostku dengan wajah pucat dan terlihat lelah.Siang ini dia
mengenakan jilbab putih lebar dengan jubah biru bermotif bunga serta
kaus kaki krem yang membungkus kedua kakinya.
“Maaf dik..lihat Faiz anak saya ,nggak?..saya sudah kemana-mana
mencarinya namun nggak ada.”tanya Mbak Nurul terdengar cemas
Aku tersenyum mendengar kecemasannya
“Ada kok mbak,lagi tidur di kamar saya”
Mbak Nurul menarik nafas dalam-dalam
“Syukurlah…biar saya ambil sekarang ”
“Terserah ,Mbak Nurul,”kataku seraya melangkah masuk dikuti wanita
berjilbab ini,mataku sempat melirik ke dada Mbak Nurul yang
montok,membuat kembali terbayang kemulusan buah dada montok yang
telanjang di dada ibu muda ini saat kuintip seminggu lalu.Aku menelan
ludah melihat dada Mbak Nurul yang tertutup jilbab putih lebar
itu,terlihat begitu montok menggiurkan.
“Tuh..masih tidur”kataku sambil menunjuk Faiz yang tengah lelap di
atas tempat tidurku..
Sesaat wajah cantik Mbak Nurul tampak bimbang melihat anak pertamanya
itu lelap dalam tidurnya. “Mungkin saya nitip anak saya dulu
dik..kasian kayaknya dia lelap sekali tidurnya,nanti sore aku
ambil..”desisnya lirih
Aku tersenyum mengangguk,tapi sedetik kemudian aku ingat aku harus
membeli kabel buat komputerku.
“Nggak papa mbak,tapi sebentar aku mau pergi beli kabel, boleh aku
minta mbak disini dulu sebentar ?” tanyaku”sampai aku kembali”
Mbak Nurul tersenyum lantas mengangguk, namun wajah cantiknya tampak
kuyu letih.
“Mm..Mbak Nurul kayaknya letih yah..Biar aku buatkan minum buat Mbak
Nurul sebentar,Mbak khan tamu di rumah ini,apalagi baru pertamakali
berkunjung,” kataku spontan.
Wajah yang terbalut jilbab putih lebar itu tersenyum
“Terserah adik..mbak memang haus”
Tak berapa lama kemudian,aku mengambil sebuah gelas yang aku tuangi
dengan syrup ABC jeruk serta air dingin dari kulkas.
Ketika aku tengah mengaduk minuman untuk Mbak Nurul,mataku menangkap
beberapa bahan kimiawi praktikum di mejaku.Aku tahu beberapa bahan
kimia itu mempunyai efek sebagai obat tidur.Sesaat aku merasa bimbang
ketika timbul keinginanku untuk mencampur minuman untuk Mbak Nurul
dengan bahan kimiawi tersebut.Aku berhenti mengaduk,mataku melirik
Mbak Nurul yang tengah duduk di karpet ruang tamu sambil membaca
sebuah majalah komputer milikku.Wajah cantik yang terbalut jilbab itu
begitu
mempesona,apalagi ketika kulihat ternyata ujung pakaian jubahnya agak
tertarik ke atas tanpa di sadarinya ,membuat salah satu betisnya
terlihat nyaris separuhnya.Walaupun betis Mbak Nurul saat ini
terbalut kaus kaki krem,namun betis yang terlihat nyaris separuh itu
terlihat begitu indah..dan keindahan apalagikah ketika ujung jubah
itu kian tertarik ke atas..tanpa sadar aku menelan ludah
membayangkannya,apalagi ketika teringat keindahan buah dada Mbak
Nurul yang pernah kulihat telanjang,membuat otakku kian dipenuhi
birahi terhadap wanita berjilbab yang kini duduk di karpet ruang tamu
kost Akhirnya tanpa ragu aku mencampurkan bahan kimia itu ke dalam
minuman dingin untuk Mbak Nurul,cukup untuk membuat wanita ini
terlelap.
“Silakan diminum Mbak..aku pergi beli kabel sebentar..”kataku dengan
dada berdebar-debar.
Mbak Nurul tersenyum sambil mengucapkan terima kasih,namun dia
terlihat agak gugup ketika tahu mataku tengah memperhatikan betisnya
yang tersingkap nyaris separuh itu.
“Terima kasih dik..ngrepotin aja”kata Mbak Nurul sembari membenahi
ujung jubahnya yg tertarik ke atas dengan sedikit tergesa,sehingga
betis itu kembali tertutup.Aku tersenyum penuh arti ketika tangan
Mbak Nurul membenahi ujung jubahnya dengan sedikit gugup dan wajah
yang bersemu merah.
Beberapa saat kemudian Honda GL ku meluncur meninggalkan tempat
kostku.Tak sampai 15 menit kemudian aku pun kembali.Jantungku
berdegup kencang
ketika aku memarkirkan sepeda motorku di teras,lantas aku membuka
pintu dengan tergesa-gesa.Aku nyaris terlonjak dengan jantung
berdegup kian kencang ketika mataku menatap ke ruang tamu kostku yang
hanya berlapis karpet biru itu.Mataku terbelalak melihat Mbak Nurul
ternyata telah tergeletak pulas di atas karpet ruang tamu.
“He he he he..ternyata bahan kimia itu bekerja baik”kataku sambil
mendekati tubuh Mbak Nurul yang tergeletak pulas,sementara gelas
minuman yang kuberikan untuknya terlihat kosong,tanpa setitik air di
dalamnya.
Aku tersenyum penuh nafsu,memandang wanita berjilbab tetanggaku yang
terlihat pulas terlentang di atas karpet ruang tamu kostku.Dengan
jantung berdegup kian kencang aku menghampiri Mbak Nurul,lantas
berlutut di sampingnya.Mataku lekat menatap wajah Mbak Nurul yang
mirip artis Marissa Haque ini.Wajah cantik berbalut jilbab putih
lebar itu kian terlihat cantik saat pulas tertidur membuatku kian
bernafsu.Kemudian mataku menatap dadanya yang naik turun dengan
teratur seiring nafasnya.Sepasang buah dada montok yang tertutup
jilbab putih lebar itu membuatku menelan ludah,sehingga sesaat
kemudian tanganku terulur menjamahnya.Aku merasa bermimpi ketika
tanganku dengan sedikit gemetar meraba-raba bukit montok di dada Mbak
Nurul yg masih tertutup jilbab lebar itu.
“Ohh..montoknya”desisku dengan nafas mulai tersengal,lantas sedetik
kemudian tanganku mulai meremas buah dada Mbak Nurul yang masih
tertutup jilbab putih yang
lebar itu.Aku nyaris tak percaya kalau siang ini aku dapat meremas
dada montok wanita berjilbab tetanggaku yang terlihat alim itu
“Ohh..Mbak Nurul…….!!”desahku ketika kemudian tanganku meremas
remas sepasang payudara kenyal di dada ibu muda beranak dua
ini.Semakin lama tanganku kian liar meremas buah dada Mbak Nurul
membuat jilbab putih yang dikenakannya kusut tak karuan.Tanganku
kemudian menyingkapkan jilbab putih yang menutupi dada montok itu ke
atas.Aku tersenyum ketika aku melihat tiga kancing pada bagian atas
jubah yang dipakai ibu muda ini.Tanganku terasa gemetar ketika
jemariku meraih tiga buah kancing yang rapat itu,lantas mulai
membukanya satu persatu. Perlahan-lahan kulit mulus di dada Mbak
Nurul yang putih mulai terlihat merangsang birahiku. Jakunku naik
turun dengan dada yang berdegup kian kencang .
. Birahiku kian liar bergolak,ketika tanganku semakin lebar
menyingkap bagian atas jubah Mbak Nurul yang terbuka itu.Belahan
payudara Mbak Nurul yang montok itu membuatku kemaluanku kian
mengeras dan mataku seakan tak berkedip melihat keindahan di dada
wanita berjilbab ini. Mataku pun mulai melihat,BH warna krem yang
membungkus sepasang payudara Mbak Nurul,saat aku menyingkapkan
semakin lebar bagian dada jubah yang dipakai wanita berjilbab ini.
Kemudian jubah yang dipakai Mbak Nurul aku tarik ke bawah sehingga
bagian atasnya tertarik kebawah melewati pundaknya,maka tersembulah
sepasang buah dada Mbak Nurul yang montok dan mulus
menggiurkan.Buah dada Mbak Nurul itu masih ketat terbungkus Bh wrana
krem yang dikenakan wanita berjilbab ini.
“Ooohh.. Mbak Nurul…montoknya”desisku sambil menahan birahi yang
kian menggelegak.Mataku liar melihat gundukan buah dada Mbak Nurul
yang masih tertutup BH warna krem.Kemudian dengan nafsu yang kian
menggelegak,tanganku menarik cup BH itu ke atas yang membuat buah
dada ibu muda ini tak tertutup lagi.
“Glek..ohh..Mbak Nurul….”desahku menahan birahi melihat payudara
Mbak Nurul yang kini
telanjang didepannya.Payudara telanjang di dada wanita berjilbab ini
begitu indah bentuknya.Walaupun Mbak Nurul telah beranak dua ,namun
sepasang buah dadanya masih terlihat kencang.Kulit Mbak Nurul yang
putih mulus dan puting susu kecoklatan yang terlihat mulai tegak
membuat buah dada wanita berjilbab ini kian menggiurkan nafsuku.
Dengan gemetar tanganku mencoba menjamah buah dada ibu muda
berjilbabvini.Aku seakan tak percaya mampu menjamah payudara seorang
wanita alim seperti Mbak Nurul ,yang sehari-hari kulihat selalu
menutup rapat sekujur tubuhnya dengan jilbab yang lebar dan jubah
panjang yang longgar.Namun ketika tanganku merasakan kehangatan dan
kekenyalan payudara Mbak Nurul yang montok,tubuhku mengigil menahan
birahi kian menggelegak.Kemudian dengan penuh nafsu
tanganku mulai meremas-remas payudara montok yang telanjang
itu.Sepasang payudara yang selama ini tersembunyi di balik jubah dan
jilbab lebar yang selalu dikenakan Mbak Nurul kali ini ada dalam
remasanku yang kian liar, “Mmm..Mbaak Nuruulll…mmmm…”desisku
sembari mempermainkan puting susu kecoklatan di dada Mbak Nurul
dengan jari-jariku.Aku merasakan puting susu ibu muda yang aku
pelintir ini kian
terasa tegak dan mengerasi.Nafasku memburu jalang,tubuhku menggigil
menahan birahi menggelegak ketika tanganku bermain di dada telanjang
wanita berjilbab ini.Beberapa lama aku meremas-remas buah dada Mbak
Nurul yang telanjang itu dengan tanganku ,sebelum aku mulai
menjilati payudara wanita berjilbab itu dengan lidahku dan
menciuminya penuh nafsu.
Aku merasakan sepasang buah dada Mbak Nurul yang telanjang itu kian
kencang mengeras ketika aku menciuminya dan menjilatinya,bahkan
ketika aku mengulum puting susu yang kecoklatan itu aku sempat
terkejut oleh rintihan dari mulut Mbak Nurul.Aku menatap wajah Mbak
Nurul yang
masih terbalut jilbab putihnya itu,namun aku lihat wajahnya masih
lelapdalm tidurnya hanya bibirnya memang mulai mendesah dan mengerang.
“ohhh..Mbak Nurul mulai terangsang…”desisku melihat keadaan wanita
berjilbab ini.
Desahan yang keluar dari bibir Mbak Nurul membuatku nafsu birahiku
kian liar.Mulutku kian liar menciumi dan menjilati payudara telanjang
didada wanita berjilbab ini.Puting susu yang kecoklatan itu aku kulum
dan aku hisap dengan bibir dan mulutku,membuat desahan Mbak Nurul
kian sering terdengar.Birahiku semakin terasa menggelegak jalang
mendengar rintihan dan desahan wanita berjilbab ini.Sempat terbayang
beberapa hari lalu,Mbak Nurul terlihat begitu anggun dengan jubah dan
jilbab lebarnya.Waktu itu aku hanya menelan ludah melihat tonjolan
montok di dada yang tertutup jilbab lebar itu.Namun saat ini,payudara
wanita berjilbab itu dapat aku nikmati sepuas
birahiku.
Cukup lama aku memuaskan nafsuku pada kedua payudara montok Mbak
Nurul yang telanjang tanpa penutup itu.Aku melihat Mbak Aan semakin
jalang mendesah dan merintih dalam tidurnya tiap kali aku menghisap
dan menjilati dan menciumi kedua buah dadanya yang montok mengiurkan
itu.Gila..baru pertama kali ini aku melihat seorang wanita berjilbab
merintih begitu jalang dan
liar,oleh birahi yang mencengkeramnya.
Setelah aku puas dengan payudara Mbak Nurul,mataku beralih menatap
bagian bawah tubuh ibu muda berjilbab ini.Aku melihat walapun
beberapa kali,Mbak Nurul menggeliat dan mengejang menahan rangsangan
birahi dariku,namun ujung jubah yang dikenakan Mbak Nurul tidak
sampai tersingkap,Bagian bawah Mbak Nurul masih rapi tertutup oleh
jubah panjang yang dipakainya sehingga hanya terlihat kakinya yang
terbungkus kaus kaki warna krem.Sesaat terbayang dalam benakku,rasa
penasaranku selama ini yang membuatku ingin menyingkap jubah yang
dipakai Mbak Nurul.Perlahan kemudian aku mendekati kaki Mbak Nurul
yang masih tertutup jubah yang dipakainya.Dengan sedikit
gemetar,tanagnku terulur menyingkap jubah biru kembang yang
dipakai Mbak Nurul dengan.Jantungku berdegup kencang ketika jubah itu
mulai aku singkap ke atas,mataku mulai melihat sepasang betis Mbak
Nurul yang indah bentuknya.Sepasang betis yang indah ini masih
terbungkus kaus kaki warna krem yang agak tipis.Tanganku semakin
gemetar ketika ujung jubah biru itu aku singkap semakin ke atas
menyusuri kaki Mbak Nurul.Mataku kian membesar melihat ujung jubah
yang tengah aku tarik ke atas itu mulai melewati lutut waniat
berjilbab ini.Aku baru tahu,ternyata kaos kaki katun yang dipakai
Mbak Nurul cukup panjang, hampir seluruh betisnya tertutup oleh kaus
kaki krem yang dipakainya.Nafasku kian mendengus kasar menahan nafsu
birahiku saat ujung jubah itu aku singkap ke atas melewati kedua
lututnya,dan mataku nyaris tak berkedip melihat keindahan yang
terpampang dibalik jubah yang aku singkap semakin ke atas.Akhirnya
ujung jubah biru yang semula rapat menutup tubuh ibu muda ini
tersingkap hingga ke pinggangnya.Sepasang kaki wanita berjilbab itu
kini tidak lagi tertutup jubah panjang itu.
“Ohh..Mbak Nurul..”desisku dengan mata nyaris tak berkedip melihat
pemandangan di depanku.Sepasang paha putih Mbak Nurul yang telanjang
itu tampak mulus menggiurkan.Paha putih mulus itu masih terlihat
kencang dan bulat padat.Tetapi yang membuat tubuhku menggigil hebat
menahan birahi,ketika mataku menatap pangkal paha Mbak Nurul yang
telanjang.mataku melotot melihat kemontokan bukit kemaluan wanita
berjilbab yang masih tertutup celana dalam itu.Celana dalam biru yang
dipakai Mbak Nurul termasuk tipis untuk menyembunyikan gundukan
kemaluan ibu muda ini sehingga mataku secara samar, mampu melihat
bayangan bulu-bulu kemaluan dan belahan bibir kemaluan ibu muda
berjilbab ini.Tubuhku gemetar melihat keindahan yang luar biasa ini
dan batang kemaluanku terasa kian keras.
“Ohh..mbak Aaan..Ohhh”desisku gemetar dengan mulut ternganga melihat
keindahan di depan mataku.Terbayang kembali beberapa hari lalu,aku
selalu melihat Mbak Nurul adalah seorang wanita berjilbab lebar dan
berjubah panjang membuatnya terlihat begitu alim.Beberapa menit yang
lalu sebelum pulas terpengaruh oleh minuman dariku,Mbak Nurul masih
gugup dan terlihat malu ketika ujung jubahnya tersingkap yang hanya
memperlihatkan separuh betisnya.Namun saat
ini hampir tak kupercaya kalau aku telah melihat keindahan yang
selama ini tersembunyi di balik jilbab lebar dan jubah panjang Mbak
Nurul itu.Aku menelan ludah berkali-kali dengan birahi kian
menggelegak melihat pemandangan di depanku.Seorang perempuan berparas
cantik dengan jilbabnya yang lebar serta jubah biru bermotif bunga
tergolek dengan sepasang buah dada yang
menyembul telanjang dan bagian bawah jubahnya tersingkap hingga ke
perut memperlihatkan kemulusan sepasang pahanya dan celana dalam yang
dikenakannya.Tubuhku menggigil penuh birahi yang menggelegak melihat
keindahan yang langka ini.
Mbak Nurul masih terlihat pulas dalam pengaruh obat tidur yang
kucampurkan dalam minuman untuknya.Kedua mata di wajah cantiknya yang
terbalut jilbab lebar putih masih tertutup dengan rapat,walaupun
wanita berjilbab ini sempat merintih dan mengerang saat kurangsang
sepasang payudara di dadanya.Berulang kali aku menelan ludah
sementara penisku sudah mengeras oleh desakan birahi melihat keadaan
Mbak Nurul saat ini.Ibu muda tetanggaku yang selama ini tak pernah
kulihat kecuali wajah cantiknya dan telapak tangannya, saat ini
kulihat setengah telanjang tergeletak di depanku.Jilbab putih lebar
yang beberapa menit lalu masih rapi menyembunyikan kemontokan
dadanya,saat ini tersingkap ke atas dengan jubah yang terbuka pada
bagian dadanya dan BH yang tersingkap,sehingga sepasang buah dada
wanita berjilbab beranak dua yang selama ini tersembunyi,terpampang
menggiurkan tanpa penutup,.
Dengan birahi yang menggelegak,aku bergeser mendekati kaki Mbak Nurul
yang terbuka itu.Aku melihat sepasang betis yang indah itu masih
terbungkus kaus kaki warna krem yang cukup panjang hampir menutupi
betisnya.Dengan sedikit gemetar,aku mengulurkan tanganku melepas
sepasang kaus kaki warna krem itu dari kaki Mbak Nurul.Aku kembali
menelan ludah melihat kemulusan betis Mbak Nurul yang kini telanjang
di depanku.Aku sempat tersenyum teringat beberapa menit lalu,ketika
Mbak Nurul gugup terlihat separuh betisnya olehku karena jubah yang
dipakainya tersingkap.Namun setelah wanita berjilbab ini pulas dalam
pengaruh obat tidurku,aku bukan hanya mampu melihat betisnya namun
juga menjamahnya bahkan lebih.
Telapak kaki Mbak Nurul terlihat putih kemerahan,ketika tanganku
meraihnya terasa halus di tanganku.Beberapa saat aku mengelusnya
sebelum kemudian bibirku mulai menciumi telapak kaki yang bersih dan
halus itu.Nafasku memburu kian cepat ketika dengan bernafsu aku
menciumi dan menjilati telapak kaki wanita ini.Telapak kaki wanita
berjilbab yang telanjang itupun terlihat berkilat oleh bekas
jilatanku yang liar.Kemudian dengan penuh birahi,bibirku menyusuri
kaki Mbak Nurul semakin ke atas.Aku menciumi dan menjilati sepasang
betis wanita berjilbab ini yang tak pernah kulihat sebelumnya karena
selalu tertutup oleh pakaian panjangnya.Betis putih mulus yang indah
dan ditumbuhi rambut-rambut halus itu terasa hangat di bibirku dan
lidahku yang menjilatinya.Libidoku kian menggelegak saat bibir dan
lidahku menciumi serta menjilati betis indah Mbak Nurul yang tak
pernah kulihat sebelumnya ini.Nafasku terengah-engah oleh desakan
birahiku yang kian liar.
Saat bibir dan lidahku menciumi dan menjilati kemulusan betis Mbak
Nurul,tanganku menyusuri kaki wanita berjilbab ini kian ke
atas.Tanganku mengelus-elus paha mulus Mbak Nurul yang telanjang dan
bulat padat ini.Begitu halus, lembut dan hangat kulit Mbak Nurul aku
rasakan.Ketika menyentuh paha yang ditumbuhi bulu-bulu halus, aku
merasakan kehangatan yang makin terasa mengalir ke telapak
tangannya.Kemaluanku menjadi kian menegang keras dan membuat celanaku
terasa sesak dan ketat. Jantungku makin berdegup kencang ketika aku
meneruskan belaian tanganku makin jauh ke arah pangkal kaki waniat
berjilbab yang mulus. Kulit tanganku merasakan hawa yang makin hangat
dan lembab ketika tanganku makin jauh menggerayangi pangkal kaki
Mbak Nurul yang bak belalang itu. Gerakan tanganku terhenti ketika
tanganku mulai menyentuh gundukan daging yang begitu lunak dan
hangat,namun terasa masih terbungkus kain celana dalam. Beberapa saat
aku meraba-raba gundukan daging lunak hangat itu mengelus-
elusnya,yang ternyata kembali membuat Mbak Nurul merintih dan
mengerang oleh rabaanku pada gundukan di selangkangannya.Bahkan
semakin lama aku semakin gemas,sehingga kemaluan montok wanita
berjilbab yang masih terbungkus celana dalam itu bukan hanya aku elus-
elus,namun tanganku lantas meremas-remasnya penuh nafsu.
Aku sempat melirik wajah Mbak Nurul yang masih terbalut
jilbabnya,ketika wanita cantik ini merintih bahkan tubuhnya
menggeliat.Aku hanya menyeringai ketika aku melihat wanita berjilbab
ini tidak menunjukkan tanda-tanda sadar dari pengaruh obat
tidurku.Akupun kembali menciumi dan menjilati kaki telanjang ibu muda
berjilbab yang tak pernah kulihat mulusnya saat sebelumnya.Tanganku
masih meremas-remas kemaluan montok di selangkangan Mbak Nurul ketika
aku menciumi dan menjilati sepasang paha mulusnya.Sepasang paha putih
ibu muda berjilbab yang mulus itu terasa hangat di bibir dan lidahku
membuatku semakin terangsang oleh birahi.Paha yang bulat indah dan
ditumbuhi bulu-bulu halus itupun terlihat mengkilat oleh jilatan
lidahku dan ciuman bibirku.Aku melihat Mbak Nurul masih merintih-
rintih dan tubuhnya menggeliat-geliat,bahkan kian lama rintihan
wanita berjilbab itu kian terdengar jalang membuatku kian
bernafsu.Akhirnya ciuman dan jilatanku terhenti ketika bibirku telah
merasakan lembab dan hangatnya pangkal paha Mbak Nurul. Aku
menghentikan remasanku pada gundukan kemaluan Mbak Nurul yang masih
tertutup celana dalam biru.Celana dalam yang dipakai ibu muda ini
terlihat kusut karena remasan jari-jariku yang liar dan
bernafsu.Dengan birahi yang menggelagak tanganku kini menarik celana
dalam krem yang menutupi bagian tubuh Mbak Nurul yang paling pribadi
ini.Mataku seakan tak berkedip,ketika celana dalam yang dipakai Mbak
Nurul aku tarik ke bawah.Bermula dari tersembulnya rambut kemaluan
yang cukup lebat dan hitam itu,aku terus menarik turun celana dalam
itu. Dan aku seakan terpakau ketika aku menraik celana dalam itu kian
ke bawah,belahan kemaluan ibu muda yang kemerahan itu pun tersembul
begitu menggiurkan.Akhirnya sesaat kemudian bagian tubuh wanita
berjilbab yang paling tersembunyi inipun terpampang tanpa penutup di
depanku.Tubuhku mengigil oleh birahi melihat kemaluan telanjang Mbak
Nurul di depanku ini.Terbayang kembali di benakku ,akan sebuah hasrat
yang menjadi angan-anganku selama ini untuk menyingkap jubah Mbak
Nurul dan melihat keindahan di baliknya.Aku tak mengira bahwa
keinginanku akan terwujud siang ini tanpa kesulitan sedikitpun.
Mataku lekat menatap kemaluan Mbak Nurul yang ditumbuhi rambut cukup
lebat namun terlihat rapi.Dengan libido semakin menggelagak,aku
membuka kedua paha wanita berjilbab ini lantas aku membenamkan
kepalaku diantara kedua paha putih mulus itu.Bibirku segera menciumi
kemaluan wanita berjilbab yang ditumbuhi rambut cukup lebat
itu.Nafasku terengah-engah diantara kedua paha mulus Mbak
Nurul.Bibirku dengan bernafsu menciumi permukaan kemaluan ibu muda
ini dengan liar.Mbak Nurul makin jalang merintih dan
mengerang,tubuhnya menggeliat menahan rangsangan birahi di bagian
tubuhnya yang paling rahasia itu.Lidahkupun bergantian menjilati
permukaan kemaluan wanita berjilbab ini sehingga rambut kemaluan Mbak
Nurul terlihat basah.
Sambil membelai-belai rambut dan menjilati yang mengitari kemaluan
Mbak Nurul , Aku menghirup-hirup aroma harum khas kemaluan yang
menyengat dari kemaluan wanita berjilbab ini,lantas aku pun
meneruskan dengan jilatan ke seluruh sudut selangkangan Mbak Nurul .
Sehingga kini kemaluan wanita berjilbab di depanku basah oleh air
liurku.Tangankupun membuka bibir kemaluan Mbak Nurul lantas aku
julurkan lidahku ke arah klitoris dan menggelitik bagian itu dengan
ujung lidahku. Mbak Nurul yang masih belum tersadar dari pengaruh
obat tidurku makin jalang merintih dan tubuhnya makin kerap
menggelinjang,ketika bagian kewanitaan yang paling sensitif ini aku
jilati. Aku merasakan ada pijitan-pijitan lembut dari lubang vagina
Mbak Nurul yang membuat lidahku seperti dijepit-jepit. Makin lama
lubang itu makin basah oleh cairan bening yang agak lengket yang
terasa asin di lidahku. Mbak Nurul kini makin keras mengerang dan
terengah-engah dalam tidurnya. Rupanya ia merasakan kenikmatan dalam
mimpi, ketika kemaluannya aku ciumi dan aku jilati. Pinggulnya mulai
menggelinjang dan kakinya ikut menggeliat.
Melihat tingkah Mbak Nurul yang begitu merangsang menggairahkan,aku
tak mampu menahan gelegak birahiku.Aku segera menurunkan celana
training beserta celana dalamku,sehingga mencuatlah batang penisku
yang besar dan panjang serta tegak mengeras kemerahan.Perlahan-lahan
kedua kaki Mbak Nurul kutarik melebar,sehingga kedua pahanya
terpentang. Kedua lututku melebar di samping pinggul wanita berjilbab
ini lantas tangan kananku menekan pada karpet, tepat disamping tangan
Mbak Nurul , sehingga sekarang aku berada dalam posisi setengah
merangkak di atas wanita ini.Tangan kiriku memegang batang
penisku.Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan pada belahan bibir
kemaluan Mbak Nurul yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar
itu kugosok-gosok dengan hati-hati pada bibir kemaluan wanita
berjilbab tetanggaku ini. Terdengar suara erangan perlahan dari mulut
Mbak Nurul dan badannya agak mengeliat, tapi matanya masih tetap
tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah
bibir kemaluan ibu muda berjilbab yang cantik ini.
Sekarang kepala kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan Mbak
Nurul . Dari mulut wanita berjilbab ini tetap terdengar suara
mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai
gelisah,agaknya Mbak Nurul mulai sadar. Aku tidak mau mengambil
resiko, sebelum Mbak Nurul sadar, aku sudah harus memasukkan penisku
ke dalam kemaluan ibu muda tetanggaku ini.
Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku, kutekan
perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku
mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan wanita berjilbab ini.
Kelihatan sejenak kedua paha Mbak Nurul bergerak melebar, seakan-akan
tak mampu menampung desakan penisku ke dalam lubang kemaluannya.
Badannya tiba-tiba mulai bergetar menggeliat dan lantas kedua matanya
mendadak terbuka, terbelalak bingung, memandangku yang sedang
bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan dia siap untuk
berteriak. Dengan cepat aku memagut bibir Mbak Nurul untuk mendekap
mulutnya agar jangan berteriak. Karena
gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga
lagi,akibatnya seluruh berat pinggulku langsung menekan ke bawah,
sehingga tidak dapat dicegah lagi penisku menerobos masuk ke dalam
lubang kemaluan Mbak Nurul dengan cepat.
Badan Mbak Nurul tersentak ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk
dirapatkan,sedangkan kedua tangannya terlihat refleks mendorong ke
atas, menolak dadaku. Dari mulutnya keluar suara jeritan, tapi
tertahan oleh bekapan bibirku yang melumat mulutnya.
“Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!” desahnya tidak jelas.Kemudian
badannya mengeliat-geliat dengan hebat dan meronta-ronta, kelihatan
Mbak Nurul sangat kaget luar biasa melihatku tengah
menindihnya.Meskipun Mbak Nurul meronta-ronta hebat, akan tetapi
bagian pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh pinggulku
dengan rapat. Karena gerakan-gerakan wanita berjilbab
ini dengan kedua kakinya yang meronta-ronta itu, penisku yang telah
terbenam di dalam vagina Mbak Nurul terasa dipelintir-pelintir dan
seakan-akan dipijit-pijit oleh otot-otot dalam vagina ibu muda ini.
Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.
Cukup lama wanita berjilbab ini meronta-ronta hebat sebelum akhirnya
rontaan Mbak Nurul ini mulai melemah .Nafasnya memburu dengan mata
yang menyorot tajam ke arahku penuh kemarahan dan kebencian.Wajah
yang masih terbalut jilbab putih lebarnya itu kini merah padam,namun
kemudian mata yang menyorot tajam itu terpejam,bahkan air matapun
mengalir deras dari kedua matanya membasahi jilbab putih yang masih
membalut wajahnya.Aku tidak memperdulikan semua itu bahkan aku justru
mulai menggerakan penisku yang terjepit dalam kemaluan Mbak
Nurul .Aku terus menggerak-gerakkan penisnya naik-turun perlahan di
dalam liang kemaluan ibu muda yang hangat itu. Liang itu berdenyut-
denyut, seperti mau melumat kemaluanku. Rasanya nikmat luar
biasa.Sembari terus menggerakan penisku naik turun,tanganku kembali
menggerayangi payudara putih mulus yang sudah mengeras bertambah liat
itu.Tanganku meremas perlahan, sambil sesekali dipijit-pijitnya
bagian puting susu yang sudah mencuat ke atas. Beberapa menit
kemudian aku melihat kian lama air mata dari mata Mbak Nurul yang
terpejam mulai menyusut bahkan kembali aku merasakan,wanita berjilbab
ini mulai kembali terengah seperti sebelum tersadar dari pengaruh
obat tidurku.
Dengan dada berdebaran melihat perubahan pada Mbak Nurul ,aku
melepaskan lumatan bibirku pada mulutnya dan aku nyaris
terpekik,ketika aku melepaskan bibirku dari mulut Mbak Nurul.Ternyata
mulut Mbak Nurul tengah merintih dan mengerang,membuatku kian liar
menggerakan penisku naik turun pada kemaluan ibu muda ini.Seakan aku
baru menyadari kalau wanita cukup lama ditinggal suaminya mencari
nafkah ke luar negeri,sehingga walapun mungkin hatinya menolak
perlakuanku,namun tubuhnya tidak bisa menyembunyikan kenikmatan yang
didapatnya.Bahkan semakin lama aku merasakan pinggul Mbak Nurul ikut
bergoyang mengikuti gerakan penisku yang naik turun dalam jepitan
kemaluannya.Semakin lama rintihan Mbak Nurul kian jalang dan
tubuhnyapun menggelinjang merasakan nikmat yang lama tak didapatinya
walaupun matanya masih terpejam.Dan akupun merasakan semakin nikmat
luar biasa yang memelintir penisku dalam vagina ibu muda berjilbab
ini.
Cukup lama tubuhku naik turun menyetubuhi ibu muda berjilbab
tetanggaku ini.Nafasku terengah disertai desahan kenikmatan di atas
tubuh Mbak Nurul yang juga merintih dan menggelinjang dengan
jalang.Semakin lama aku semakin merasakan nikmat pada penisku
sehingga beberapa menit kemudian aku merasakan hendak sampai ke
puncak kenikmatanku.Dengan sepenuh tenaga aku menekan pinggulku kuat-
kuat sehingga ujung penisku menyentuh dasar kemaluan Mbak Nurul lalu
dengan geram yang cukup keras aku menuntaskan kenikmatan luar biasa
yang kurasakan saat penisku memuntahkan cairan hangat cukup banyak
dalam liang kemaluan Mbak Nurul .
Aku menggeram penuh kenikmatan “Ahhhhh..Mbak
Nuruuullll..Ahhhhhh..Enaaakk.”
desahku sambil memeluk Mbak Nurul erat-erat.Beberapa saat aku
menikmati orgasmeku sebelum
akhirnya aku lunglai di atas tubuh wanita berjilbab ini.Nafasku
terengah-engah letih namun aku merasakan kenikmatan yang luar biasa
yang sulit terlukiskan.
Baru sekejap aku lunglai,aku tersentak ketika aku merasakan tubuh
Mbak Nurul bergetar hebat,lantas tanpa aku duga tangannya memelukku
kuat-kuat dan kedua pahanya melingkar memeluk pinggangku dengan
ketat.Wanita berjilbab ini memiawik kenikmatan ketika kurasakan
penisku yang masih terjepit dalam kemaluannya terasa tersedot-sedot
sebelum akhirnya terguyur cairan hangat yang membasahi batang
penisku. . “Ahhh..sssahhhh…enaaaaak…a hhhhhhh”pekik Mbak Nurul
yang masih berbalut jilbab putih sambil memelukku tubuhku kuat-
kuat.Rupanya wanita berjilbab ini telah sampai pada puncak
kenikmatannya.Beberapa saat aku merasakan ibu muda berjilbab ini
dalam orgasme hingga akhirnya kedua tangannya yang semula memelukku
terkulai lemas dan kedua kakinya yang semula menjepit pinggangku
kembali tergolek lemas.Aku pun segera mencabut kemaluanku dan
terlentang di sebelah Mbak Nurul yang terpejam kenikmatan.
Beberapa saat suasana sunyi,hanya terdengar nafasku dan nafas Mbak
Nurul yang berangsur normal.Namun beberapa saat kemudian aku
dikagetkan oleh Mbak Nurul yang tiba-tiba menjerit histeris.Aku
tergagap bangun dan kulihat wanita berjilbab ini duduk dengan
menatapku penuh kebencian dan kemarahan,bibirnya terlihat gemetar
dengan wajah yang merah padam.Tubuhnya pun terlihat menggigil hebat
dengan nafas yang memburu.
“Kenapa Mbak?..bukankah Mbak Nurul juga ikut menikmati??”ujarku
sambil tersenyum penuh arti kepada wanita tetanggaku ini
“Tidaaaaaaaaaaaak..!!!!!!!!”pe kik Mbak Nurul membuatku kaget.
Tapi belum sempat aku berkata kembali, tiba-tiba Mbak Nurul telah
bangkit lantas membenahi jilbab dan pakaiannya dengan tergesa-
gesa.Aku hanya mampu memandangnya ketika wanita berjilbab ini
kemudian berlari keluar dari rumahku.Wajah cantiknya terlihat merah
padam,dan aku lihat air mata mengalir menyusuri pipinya.
Beberapa saat aku termangu-mangu memandang kibaran jilbab putih yang
lebar yang dipakai Mbak Nurul, saat ibu muda ini berlari keluar dari
rumahku menuju rumahnya.Setelah wanita berjilbab itu hilang dari
pandanganku aku menyeringai puas..
“Ternyata aku tak hanya mampu melihat keindahan tubuh yang selalu
tertutup jilbab dan pakaian panjang itu,bahkan aku juga mampu
menikmatinya..hehehehe..”bisik ku sambil terkekeh.
Aku masih tenggelam dalam lamunanku ketika akhirnya aku dikagetkan
suara Faiz yang rupanya bangun dari tidurnya di kamarku.
“Oom Faiz mau pulang ” katanya .
Aku tersenyum memandang anak sulung Mbak Nurul ini. .
“Ya hati-hati yah..salam buat ibumu..ibumu memang
cantik,mulus,sintal,dan hebat luar biasa,cah
bagus …..hehehehehehe!!”kataku sambil terkekeh membuat bocah cilik
ini terheran-heran.
Cerita Dewasa 17 Tahun Bahagian Pertama
Cerita Dewasa 17 Tahun - jamu ibu hamil, Namaku Ratih, umurku 18 tahun. Tinggiku hanya 158cm tidak begitu tinggi dan cukup langsing. Menurut orang-orang sekitarku aku memiliki paras yang cantik dan menarik, selain itu dadaku cukup padat dan montok dengan ukuran 36A.
Setahun yang lalu aku menikah dengan Deden, seorang buruh tani yang belum memiliki pekerjaan tetap. Meski demikian, aku sangat menyayangi Deden apa adanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling, di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah. Aku tidak sampai hati memaksa Deden untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri, sehingga dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah. Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan.
Tapi apa mau dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik. Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat. Deden pun semakin perhatian, ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan kujual. Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Deden bekerja tepat waktu karena aku tidak mau upahnya dipotong hanya karena terlambat. Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit.
Seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku. Semua tersusun rapi di dalam keranjang gendong di punggungku. Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar dan aku masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.“Wah, rajin sekali istriku. ” Deden menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku. Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.
“Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” Tanyaku. “ Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen.” Mungkin nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai terlambat.” Jawab suamiku. “ Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita.” Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.“Tapi nanti hati-hati Ratih, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita. ” Iya, suamiku.” Jawabku mengakhiri obrolan kami.
Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo. Tak lupa aku memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan. Setelah sedikit berbenah, akhirnya semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku. Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu. Sebelumnya aku siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut. Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu, aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara dua payudaraku.
Sehingga dadaku nampak menonjol sekali, belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang membuatku sedikit membusung hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku. Setelah semuanya siap, aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu, tak lupa aku mengunci pintu depan dan belakang rumah warisan ayah Deden. Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama, aku selalu mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku. Karena setiap hari aku bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku. “ Jamu, Jamuuu.” Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk. “ Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.”Teriak seorang wanita. “Mau jamu apa mbak?” tanyaku. “ Kunir Asem satu gelas saja mbak.” Pintanya.
Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah. Setelah itu aku berkeliling menjajakan jamu kembali. Siang itu begitu terik, hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini cukup lumayan. Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli. Aku melangkah menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning. Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani. Sehingga mulai dari anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam.
Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah dimana para buruh tani sedang beristirahat karena sudah tengah hari. Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka sudah memanggil. ”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka. “Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.” Jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku. ” Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka.
Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya.Mereka semua ada bertiga, salah satu dari mereka sepertinya masih smp. Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari. Mereka mengajakku berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku. “wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” Tanya Aji yang memiliki tubuh kekar dan hitam. “ kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya.
“wah sama dengan dewo, dia juga rajin membantu orang tua.” Potong Abdul yang kurang lebih seumuran Aji, sedangkan dewo adalah yang paling muda diantara mereka. “Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” Jawabku lagi. “ Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya dewo. “Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu. ”Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” Jawab dewo lagi. Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku, Aji dan Abdul mereka berumur sekitar 20-an tahun, sedangkan dewo masih 14-an tahun.
Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu. “ wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” Tanya Aji. “ wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” Jawabku sambil sedikit senyum. “Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” Jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh. “Asik kenapa to mas?” Tanyaku heran. “Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.” Jawab aji sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku kemudian duduk di sampingku. Posisiku kini ada diantara Aji dan Abdul, sedangkan Dewo ada dibelakangku. Rupanya dewo diam-diam memperhatikan tubuhku dari belakang, memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah oleh keringat dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk.
Tapi aku tidak tahu akan hal ini. “wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu. Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak melihat. Dalam hati aku berpikir,”Dasar orang kampung tidak tahu malu.” Saat itu Panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir, tidak terasa aku pun mulai mengantuk.
Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum sempat untuk beristirahat. Aji pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Dewo juga sama seperti Abdul, tiduran di lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas, mengeluh karena panas tak juga usai. Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan, tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku takut terjadi sesuatu dengan janinku. ”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?” Kata Abdul mengagetkanku. ” A..anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” Jawabku. ”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.” Kata dewo dari belakangku.
“Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.” Jawabku sambil mengamati langit yang sangat terik. “ Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” Hibur mas Aji. Tidak terasa aku semakin mengantuk. Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang sangat nyaman. Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan disampingku.
Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh pantatku. “aaaaw apa-apaan ini!!?” Aku terbangun dan kaget ketika srot…crops.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul. Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat menghindar dari kecupan kasarnya itu. kudapati ke 2 tangan dan kakiku terikat erat dengan tali plastik entah dari mana didapatnya “Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah itu.” Kata Aji sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cenge-ngesan.
Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku. Tapi tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini. ”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.” Aku memelas dengan harapan mereka dapat berubah pikiran. ”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” Bisik abdul sambil meniup telingaku. Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,”bagaimana dengan Deden, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.” Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.“ JJangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.”
Aku mencoba untuk mengelabui mereka. Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain. “Yang bener kamu sedang Haid? Wah Sial bener aku hari ini!” Jawab Abdul kesal. “ iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.” Aku memohon pada mereka.“ Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” Kata Aji. Namun Dewo yang masih berumur 14 tahun ini tidak memperdulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-remas pantatku.
“ Sudah wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” Kata Aji pada dewo. Dewo tetap tidak menghiraukannya. Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin kebawah menuju selangkanganku. Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana dalam putihku terlihat. Dewo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan hal ini, dibukanya rokku semakin keatas, “ Mana? Tidak ada darah kok.” Kata Dewo. Sontak ucapan dewo mendapat perhatian dari Aji dan Abdul. “ Mana woo, jangan bohong kamu.” Kata mereka serempak. Kemudian Aji mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku.
“Kamu bohong!” dan PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku. “Aaa Ampun mass, ampunn, Aku sedang hamil mass.” Aku semakin memelas dan ketakutan. “Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku, hingga aku hanya mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut. Aji melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku.
“Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?” Dewo menantangku, dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat. Aku tersentak dan kaget, juga kulihat penis dewo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas celana dalamnya. Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada seseorang yang mendengar.
Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera menikmati tubuhku. “Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.” Aji senang sekali melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap. “ mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.” Tubuhku merinding dan sesekali aku berteriak minta tolong.
“wa haha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu! Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja! Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.” Kata abdul sambil mendekatiku. Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri. Srakk, Abdul merobek rok ku dan melemparnya ke arah Dewo. “Itu wo, buat kenang-kenangan.” Kata abdul. “ haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” Kata dewo cengar-cengir. Kini tubuhku sudah setengah bugil. Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku. “Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.
Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak, tanganku di pegang abdul dan diangkatnya keatas. Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku. “ aaach, ampun mass, ampun, too.. tolong ngeechh.” Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas. Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan gubuk dan kait BH ku terlepas.
Aku sudah tidak bisa lari dari mereka, kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku, aku menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku. Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak. Air mata mulai menetes membasahi pipiku. Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga. Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah menjadi satu. Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang memperlihatkan Paha dan Payudaraku yang sudah sedikit terbuka.
Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan, rupanya Aji juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Dewo yang sudah siap dari tadi telungkup dari atasku, tangannya mulai bermain di telingaku
sedangkan kepalanya terus memburu bibirku. “mmpff… mmpff.” Dewo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya. Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke penisnya yang sudah membesar. Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit nungging. Aku pun menurut saja, aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang masih tertutup celana dalam yang sudah usang.
Tidak berapa lama Aji sudah berada di paha bagian kananku. Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku diantara selangkangannya, hingga dapat kurasakan penisnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada pahaku yang mulus. Tangan Aji mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku. “nggghhh uaa mppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku. “ngghh, ahhh, mmppff.”
sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar. Memang harus kuakui meski dari rohani aku menolak, tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai basah oleh lendir kewanitaanku. “He eh! Minggir-Minggir!” Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” Teriak Abdul. “Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” Tambahnya. Aji dan Dewo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku, dan kini penisnya yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku.
“Gimana cah ayu, sepertinya kamu juga keenakan ya?” Kata Abdul di depan mukaku. “Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap awal.” Ia semakin mendekat di wajahku. Seketika itu agus melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan. “nggg ahhh, aah, ach.” nafasku semakin tidak teratur. Dewo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi, lalu menyuruhku untuk mengocok-ocoknya. Aji pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti apa yang kulakukan pada dewo. Wajah dewo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah kemaluanku, dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam sambil tangannya memainkan putingku.
Aku semakin bernafsu, tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih terasa. Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang. Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku. Disibakkannya rambut kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku dan sesekali menghisap klitku dan tangannya semakin liar mempermainkan kedua payudaraku. “ nggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.” Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga abdul lebih leluasa memainkan vaginaku.
Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku. Aku sangat malu pada diriku, kenapa aku justru sungguh bisa menikmati keadaan ini, tapi tubuhku seolah-olah sudah menyatu dengan jiwa mereka. “mass ahhh, terus mass, enn enak.” Aku terus berisik dan meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin bernafsu. Lidah dan mulut Abdul Semakin liar menghisap-hisap dan menyapu vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan Dewo dan Aji. “ ahhhh ahhh, mass. lebih cepat mass.” aku mengerang dan ketika itu juga aku mengejang mengalami orgasme.
Cairan lendir kewanitaanku tampak mengkilat membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan kekiri. Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti dicekoki, didepanku kini ada tiga batang lelaki yang berurat siap menjejali mulutku. Tanpa menunggu lama, aku masukkan rudal mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang kemaluan mereka maju mundur. Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan,”oohh.” Aji melenguh keenakan. Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya.
Abdul yang sudah sangat terangsang mendorong tubuhku sehingga terlentang dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu. “ouch mmass.” aku sedikit menggigil menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku. Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk kedalam liang kewanitaanku. Tanpa basa-basi, Abdul mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Sedangkan Aji dan Dewo menjilat-jilat dan menghisap payudaraku.
Aku dikeroyok oleh 3 orang. Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme. Aku memegangi kepala Aji dan Dewo sambil terus melenguh keenakan.“ Uhhh ahhh, umm. ahh.” Kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka terhadapku. Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Aji dan Dewo menciumi bibirku. Abdul belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia. Kini ia menyuruhku untuk nungging. Aku hanya menuruti perkataannya. “ Dul, gantian aku yang naikin dia.” Tanpa basa-basi Dewo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku, kini posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Dewo.
Penis Dewo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Aji dan Abdul. Mungkin ini pertama kali baginya untuk merasakan liang vagina. Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke dalam vaginaku. “Uoogghh, uenakk tenann” Kata Dewo. Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku. Dewo cepat beradaptasi, Meski penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat, berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan. Aji berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju mundurkannya beriringan dengan genjotan Dewo.
Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan putingku yang mancung kemerahan itu. Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Dewo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur,” Ahhh, masss, aaa, aku keluaaarr.” ummm, mmpfff.” Aku keluar untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan Dewo, ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku, seketika itu juga ia langsung lemas.
“ Wah, wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Aji.” Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” Tambahnya. “maaf mas Aji, aku kelepasan.” Ucap dewo. tampaknya dewo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur. “Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” Ucap Abdul. Abdul kemudian menggantikan posisi Aji dengan memasukkan penisnya ke mulutku. Sedangkan Aji kini berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging.
“Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” Seringainya padaku. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku, tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba masuk melalui anusku. “ Nggghhh masss, sakitt, aa ampun mas.” Aku merasa kesakitan saat penis Aji yang besar mencoba menerobos anusku. “Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.” Aku semakin tidak karuan merasakannya. Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Aji masuk ke dalam anusku,” nggg ahhh.” rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku, karena baru kali ini anusku di jejali penis. “ hmmff Sempit banget , uahh.” Ucap aji keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku. Aji sudah mulai terbiasa dengan ini, sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan penisnya.
“Akkkkhh, uuahhhh.” Aji mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan, spermanya mengisi penuh seluruh isi anusku hingga meleleh keluar. Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama, “ ouughhh teleennnn, sseeemuaa manis.” Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada penisnya.
Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku telan. Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Deden, Mereka bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali, tapi mas Deden mungkin bisa lebih, bahkan Hingga aku tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah. Aku pun masih terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun menempel, terasa lengket di pipi, kemaluan dan sela pantatku sedikit mengganjal dan pedih. Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan. “itu untuk ongkos jamu dan tubuh kamu.” Sekarang kamu pergi dari sini!” Ucapnya sedikit membentak. “bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku.
“ Pikir saja sendiri” Balas abdul ketus. Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku. Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat keranjang tadi, Aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup. Aku bergegas meninggalkan mereka sambil membawa kerangjangku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. “Mas Deden pasti sudah pulang ini.” Ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku. Sesampainya di rumah ternyata benar, Mas Deden sudah menungguku pulang.
Aku ceritakan semua kejadian ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya karena dialah satu-satunya orang yang kumiliki. Reaksi Mas Deden sungguh membuatku kaget, Ia justru memelukku dengan erat, dan mengelus perutku memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi. Aku terharu dengan Mas Deden. Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang memperkosaku, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, dan semoga saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa.
Aku bangga dengan Mas Deden, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini, Selamanya aku tetap mencintainya. Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi. Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas Deden, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari. Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit, tapi kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu. Kini anakku sudah besar, peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau sejenisnya. Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari, yang tetap bersinar sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini, esok, dan seterusnya.
Setahun yang lalu aku menikah dengan Deden, seorang buruh tani yang belum memiliki pekerjaan tetap. Meski demikian, aku sangat menyayangi Deden apa adanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling, di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah. Aku tidak sampai hati memaksa Deden untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri, sehingga dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah. Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan.
Tapi apa mau dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik. Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat. Deden pun semakin perhatian, ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan kujual. Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Deden bekerja tepat waktu karena aku tidak mau upahnya dipotong hanya karena terlambat. Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit.
Seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku. Semua tersusun rapi di dalam keranjang gendong di punggungku. Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar dan aku masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.“Wah, rajin sekali istriku. ” Deden menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku. Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.
“Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” Tanyaku. “ Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen.” Mungkin nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai terlambat.” Jawab suamiku. “ Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita.” Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.“Tapi nanti hati-hati Ratih, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita. ” Iya, suamiku.” Jawabku mengakhiri obrolan kami.
Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo. Tak lupa aku memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan. Setelah sedikit berbenah, akhirnya semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku. Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu. Sebelumnya aku siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut. Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu, aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara dua payudaraku.
Sehingga dadaku nampak menonjol sekali, belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang membuatku sedikit membusung hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku. Setelah semuanya siap, aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu, tak lupa aku mengunci pintu depan dan belakang rumah warisan ayah Deden. Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama, aku selalu mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku. Karena setiap hari aku bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku. “ Jamu, Jamuuu.” Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk. “ Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.”Teriak seorang wanita. “Mau jamu apa mbak?” tanyaku. “ Kunir Asem satu gelas saja mbak.” Pintanya.
Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah. Setelah itu aku berkeliling menjajakan jamu kembali. Siang itu begitu terik, hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini cukup lumayan. Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli. Aku melangkah menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning. Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani. Sehingga mulai dari anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam.
Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah dimana para buruh tani sedang beristirahat karena sudah tengah hari. Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka sudah memanggil. ”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka. “Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.” Jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku. ” Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka.
Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya.Mereka semua ada bertiga, salah satu dari mereka sepertinya masih smp. Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari. Mereka mengajakku berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku. “wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” Tanya Aji yang memiliki tubuh kekar dan hitam. “ kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya.
“wah sama dengan dewo, dia juga rajin membantu orang tua.” Potong Abdul yang kurang lebih seumuran Aji, sedangkan dewo adalah yang paling muda diantara mereka. “Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” Jawabku lagi. “ Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya dewo. “Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu. ”Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” Jawab dewo lagi. Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku, Aji dan Abdul mereka berumur sekitar 20-an tahun, sedangkan dewo masih 14-an tahun.
Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu. “ wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” Tanya Aji. “ wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” Jawabku sambil sedikit senyum. “Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” Jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh. “Asik kenapa to mas?” Tanyaku heran. “Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.” Jawab aji sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku kemudian duduk di sampingku. Posisiku kini ada diantara Aji dan Abdul, sedangkan Dewo ada dibelakangku. Rupanya dewo diam-diam memperhatikan tubuhku dari belakang, memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah oleh keringat dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk.
Tapi aku tidak tahu akan hal ini. “wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu. Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak melihat. Dalam hati aku berpikir,”Dasar orang kampung tidak tahu malu.” Saat itu Panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir, tidak terasa aku pun mulai mengantuk.
Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum sempat untuk beristirahat. Aji pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Dewo juga sama seperti Abdul, tiduran di lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas, mengeluh karena panas tak juga usai. Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan, tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku takut terjadi sesuatu dengan janinku. ”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?” Kata Abdul mengagetkanku. ” A..anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” Jawabku. ”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.” Kata dewo dari belakangku.
“Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.” Jawabku sambil mengamati langit yang sangat terik. “ Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” Hibur mas Aji. Tidak terasa aku semakin mengantuk. Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang sangat nyaman. Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan disampingku.
Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh pantatku. “aaaaw apa-apaan ini!!?” Aku terbangun dan kaget ketika srot…crops.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul. Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat menghindar dari kecupan kasarnya itu. kudapati ke 2 tangan dan kakiku terikat erat dengan tali plastik entah dari mana didapatnya “Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah itu.” Kata Aji sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cenge-ngesan.
Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku. Tapi tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini. ”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.” Aku memelas dengan harapan mereka dapat berubah pikiran. ”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” Bisik abdul sambil meniup telingaku. Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,”bagaimana dengan Deden, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.” Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.“ JJangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.”
Aku mencoba untuk mengelabui mereka. Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain. “Yang bener kamu sedang Haid? Wah Sial bener aku hari ini!” Jawab Abdul kesal. “ iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.” Aku memohon pada mereka.“ Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” Kata Aji. Namun Dewo yang masih berumur 14 tahun ini tidak memperdulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-remas pantatku.
“ Sudah wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” Kata Aji pada dewo. Dewo tetap tidak menghiraukannya. Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin kebawah menuju selangkanganku. Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana dalam putihku terlihat. Dewo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan hal ini, dibukanya rokku semakin keatas, “ Mana? Tidak ada darah kok.” Kata Dewo. Sontak ucapan dewo mendapat perhatian dari Aji dan Abdul. “ Mana woo, jangan bohong kamu.” Kata mereka serempak. Kemudian Aji mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku.
“Kamu bohong!” dan PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku. “Aaa Ampun mass, ampunn, Aku sedang hamil mass.” Aku semakin memelas dan ketakutan. “Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku, hingga aku hanya mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut. Aji melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku.
“Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?” Dewo menantangku, dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat. Aku tersentak dan kaget, juga kulihat penis dewo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas celana dalamnya. Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada seseorang yang mendengar.
Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera menikmati tubuhku. “Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.” Aji senang sekali melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap. “ mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.” Tubuhku merinding dan sesekali aku berteriak minta tolong.
“wa haha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu! Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja! Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.” Kata abdul sambil mendekatiku. Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri. Srakk, Abdul merobek rok ku dan melemparnya ke arah Dewo. “Itu wo, buat kenang-kenangan.” Kata abdul. “ haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” Kata dewo cengar-cengir. Kini tubuhku sudah setengah bugil. Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku. “Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.
Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak, tanganku di pegang abdul dan diangkatnya keatas. Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku. “ aaach, ampun mass, ampun, too.. tolong ngeechh.” Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas. Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan gubuk dan kait BH ku terlepas.
Aku sudah tidak bisa lari dari mereka, kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku, aku menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku. Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak. Air mata mulai menetes membasahi pipiku. Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga. Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah menjadi satu. Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang memperlihatkan Paha dan Payudaraku yang sudah sedikit terbuka.
Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan, rupanya Aji juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Dewo yang sudah siap dari tadi telungkup dari atasku, tangannya mulai bermain di telingaku
sedangkan kepalanya terus memburu bibirku. “mmpff… mmpff.” Dewo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya. Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke penisnya yang sudah membesar. Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit nungging. Aku pun menurut saja, aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang masih tertutup celana dalam yang sudah usang.
Tidak berapa lama Aji sudah berada di paha bagian kananku. Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku diantara selangkangannya, hingga dapat kurasakan penisnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada pahaku yang mulus. Tangan Aji mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku. “nggghhh uaa mppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku. “ngghh, ahhh, mmppff.”
sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar. Memang harus kuakui meski dari rohani aku menolak, tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai basah oleh lendir kewanitaanku. “He eh! Minggir-Minggir!” Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” Teriak Abdul. “Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” Tambahnya. Aji dan Dewo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku, dan kini penisnya yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku.
“Gimana cah ayu, sepertinya kamu juga keenakan ya?” Kata Abdul di depan mukaku. “Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap awal.” Ia semakin mendekat di wajahku. Seketika itu agus melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan. “nggg ahhh, aah, ach.” nafasku semakin tidak teratur. Dewo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi, lalu menyuruhku untuk mengocok-ocoknya. Aji pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti apa yang kulakukan pada dewo. Wajah dewo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah kemaluanku, dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam sambil tangannya memainkan putingku.
Aku semakin bernafsu, tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih terasa. Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang. Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku. Disibakkannya rambut kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku dan sesekali menghisap klitku dan tangannya semakin liar mempermainkan kedua payudaraku. “ nggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.” Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga abdul lebih leluasa memainkan vaginaku.
Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku. Aku sangat malu pada diriku, kenapa aku justru sungguh bisa menikmati keadaan ini, tapi tubuhku seolah-olah sudah menyatu dengan jiwa mereka. “mass ahhh, terus mass, enn enak.” Aku terus berisik dan meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin bernafsu. Lidah dan mulut Abdul Semakin liar menghisap-hisap dan menyapu vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan Dewo dan Aji. “ ahhhh ahhh, mass. lebih cepat mass.” aku mengerang dan ketika itu juga aku mengejang mengalami orgasme.
Cairan lendir kewanitaanku tampak mengkilat membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan kekiri. Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti dicekoki, didepanku kini ada tiga batang lelaki yang berurat siap menjejali mulutku. Tanpa menunggu lama, aku masukkan rudal mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang kemaluan mereka maju mundur. Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan,”oohh.” Aji melenguh keenakan. Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya.
Abdul yang sudah sangat terangsang mendorong tubuhku sehingga terlentang dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu. “ouch mmass.” aku sedikit menggigil menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku. Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk kedalam liang kewanitaanku. Tanpa basa-basi, Abdul mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Sedangkan Aji dan Dewo menjilat-jilat dan menghisap payudaraku.
Aku dikeroyok oleh 3 orang. Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme. Aku memegangi kepala Aji dan Dewo sambil terus melenguh keenakan.“ Uhhh ahhh, umm. ahh.” Kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka terhadapku. Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Aji dan Dewo menciumi bibirku. Abdul belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia. Kini ia menyuruhku untuk nungging. Aku hanya menuruti perkataannya. “ Dul, gantian aku yang naikin dia.” Tanpa basa-basi Dewo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku, kini posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Dewo.
Penis Dewo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Aji dan Abdul. Mungkin ini pertama kali baginya untuk merasakan liang vagina. Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke dalam vaginaku. “Uoogghh, uenakk tenann” Kata Dewo. Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku. Dewo cepat beradaptasi, Meski penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat, berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan. Aji berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju mundurkannya beriringan dengan genjotan Dewo.
Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan putingku yang mancung kemerahan itu. Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Dewo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur,” Ahhh, masss, aaa, aku keluaaarr.” ummm, mmpfff.” Aku keluar untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan Dewo, ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku, seketika itu juga ia langsung lemas.
“ Wah, wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Aji.” Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” Tambahnya. “maaf mas Aji, aku kelepasan.” Ucap dewo. tampaknya dewo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur. “Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” Ucap Abdul. Abdul kemudian menggantikan posisi Aji dengan memasukkan penisnya ke mulutku. Sedangkan Aji kini berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging.
“Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” Seringainya padaku. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku, tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba masuk melalui anusku. “ Nggghhh masss, sakitt, aa ampun mas.” Aku merasa kesakitan saat penis Aji yang besar mencoba menerobos anusku. “Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.” Aku semakin tidak karuan merasakannya. Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Aji masuk ke dalam anusku,” nggg ahhh.” rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku, karena baru kali ini anusku di jejali penis. “ hmmff Sempit banget , uahh.” Ucap aji keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku. Aji sudah mulai terbiasa dengan ini, sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan penisnya.
“Akkkkhh, uuahhhh.” Aji mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan, spermanya mengisi penuh seluruh isi anusku hingga meleleh keluar. Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama, “ ouughhh teleennnn, sseeemuaa manis.” Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada penisnya.
Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku telan. Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Deden, Mereka bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali, tapi mas Deden mungkin bisa lebih, bahkan Hingga aku tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah. Aku pun masih terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun menempel, terasa lengket di pipi, kemaluan dan sela pantatku sedikit mengganjal dan pedih. Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan. “itu untuk ongkos jamu dan tubuh kamu.” Sekarang kamu pergi dari sini!” Ucapnya sedikit membentak. “bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku.
“ Pikir saja sendiri” Balas abdul ketus. Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku. Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat keranjang tadi, Aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup. Aku bergegas meninggalkan mereka sambil membawa kerangjangku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. “Mas Deden pasti sudah pulang ini.” Ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku. Sesampainya di rumah ternyata benar, Mas Deden sudah menungguku pulang.
Aku ceritakan semua kejadian ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya karena dialah satu-satunya orang yang kumiliki. Reaksi Mas Deden sungguh membuatku kaget, Ia justru memelukku dengan erat, dan mengelus perutku memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi. Aku terharu dengan Mas Deden. Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang memperkosaku, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, dan semoga saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa.
Aku bangga dengan Mas Deden, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini, Selamanya aku tetap mencintainya. Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi. Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas Deden, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari. Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit, tapi kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu. Kini anakku sudah besar, peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau sejenisnya. Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari, yang tetap bersinar sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini, esok, dan seterusnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
